
BISNISSULAWESI.COM, MAKASSAR – Sulampua Invesment and Business Forum (SIBF) 2026 berakhir dengan sukses, Kamis, 29 Oktober 2026. Sekitar 900 peserta terlibat dalam berbagai rangkaian kegiatan, seperti promosi proyek investasi dan produk UMKM unggulan, empat sesi talkshow, business matching, dan investment site visit. Kegiatan ini menghasilkan 17 Letter of Intent (LoI) dengan total potensi investasi Rp9,64 triliun.
Dari sisi perdagangan, SIBF 2026 membukukan komitmen ekspor Rp818,5 miliar. Angka ini meningkat signifikan dibandingkan kegiatan serupa tahun lalu sebesar Rp228,1 miliar. Capaian tersebut berasal dari kemitraan 47 UMKM se-Sulampua dengan 44 buyer dari 20 negara.
Dari total komitmen ekspor tersebut, Sulawesi Selatan menyumbang Rp740,6 miliar. Selain itu, tujuh UMKM Sulawesi Selatan berhasil memperluas akses pasar melalui kerja sama dengan jaringan ritel modern dalam negeri.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Selatan (BI Sulsel), Rizki Ernadi Wimanda menyebutkan, SIBF 2026 telah memperkuat sinergi investasi dan perdagangan Sulampua ke rantai nilai global.

Dikatakan, investasi dan perdagangan berperan penting dalam menciptakan efek berganda bagi perekonomian serta mendorong pertumbuhan yang lebih tinggi dan berkelanjutan.
”Di tengah ketidakpastian ekonomi global, percepatan investasi dan perluasan perdagangan memerlukan sinergi yang kuat dari berbagai pihak,” katanya.
Oleh karena itu, Kantor Perwakilan BI Sulsel bersama Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan dan pemerintah daerah di Sulawesi, Maluku, dan Papua (Sulampua) terus memperkuat kolaborasi. Salah satunya melalui penyelenggaraan SIBF 2026 pada 28-29 Oktober 2026.
Mengusung tema “Advancing Sulampua’s Potential: From Regional Strengths to Global Value Chains”, SIBF 2026 dihadiri Deputi Gubernur BI, Filianingsih Hendarta secara virtual, Staf Ahli Gubernur Sulsel Bidang Ekonomi Kerakyatan, Since Erna Lamba, perwakilan pemerintah daerah se-Sulampua, Kantor Perwakilan BI se-Sulampua, perwakilan kedutaan besar, kamar dagang, serta investor dan mitra bisnis dalam maupun luar negeri.
”SIBF 2026 ini, pengembangan dari kegiatan tahunan Anging Mammiri Business Fair (AMBF) dan South Sulawesi Investment Forum (SSIF) yang sejak 2024 diselenggarakan melalui Forum PINISI SULTAN,” sebut Rizki.
Pada SIBF 2026, ditawarkan 43 proyek investasi potensial dari Sulampua, ada 98 pertemuan bisnis (one-on-one meeting) dengan lebih dari 30 calon investor dalam dan luar negeri.
”Keberhasilan SIBF tidak hanya diukur dari besarnya komitmen yang dihasilkan, tetapi juga dari realisasi investasi dan transaksi perdagangan yang berkelanjutan,” tambahnya.
Dalam penyelenggaraan SIBF 2026, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Selatan mengedepankan prinsip Impactful, Inclusive, Integrated, dan Synergy (3I dan 1S). Prinsip ini menekankan pencapaian hasil yang konkret, perluasan partisipasi pelaku usaha se-Sulampua, keterpaduan program investasi dan perdagangan, serta penguatan kolaborasi antar pemangku kepentingan.
Melalui pendekatan tersebut, SIBF 2026 dapat mendorong transformasi potensi unggulan Sulampua menjadi kekuatan ekonomi bernilai tambah yang terhubung dengan rantai nilai global.
Untuk meningkatkan dampak kegiatan, SIBF 2026 didukung oleh tiga strategi utama. Pertama, memperkuat pemetaan proyek investasi dan UMKM unggulan secara terintegrasi di wilayah Sulawesi, Maluku, dan Papua (Sulampua).
Kedua, menjalin kolaborasi dengan Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan dan PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) dalam penyiapan proyek serta pengembangan berbagai skema pembiayaan, termasuk Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU). Upaya ini juga melibatkan trading house dan jaringan ritel modern untuk memperluas akses pasar UMKM.
Ketiga, memperkuat promosi dan fasilitasi bisnis melalui market sounding, business matching, serta pendampingan berkelanjutan untuk mendorong realisasi investasi dan perdagangan.
Staf Ahli Gubernur Sulsel Bidang Ekonomi Kerakyatan, Since Erna Lamba menegaskan, Pemprov Sulsel berkomitmen mendukung iklim investasi yang kondusif. Ia juga menekankan pentingnya hilirisasi komoditas unggulan untuk meningkatkan nilai tambah dan daya saing daerah.
”Untuk itu, pengembangan sektor pertanian, perikanan, dan industri pengolahan perlu didukung oleh infrastruktur dan konektivitas yang memadai agar mampu menarik investasi, memperkuat rantai pasok, dan mendorong pemerataan ekonomi,” katanya.
Melalui SIBF 2026, Since mengajak investor dan mitra usaha berpartisipasi dalam pembangunan infrastruktur dan konektivitas melalui investasi yang berkelanjutan dan berdampak luas bagi perekonomian daerah.
Deputi Gubernur BI, Filianingsih Hendarta mengatakan, investasi dan perdagangan merupakan pendorong utama pertumbuhan ekonomi Sulampua yang inklusif, berdaya saing, dan berkelanjutan. Oleh karena itu, penguatan investasi dan perdagangan perlu difokuskan pada peningkatan nilai tambah, diversifikasi ekonomi, serta konektivitas antarwilayah guna mengoptimalkan potensi unggulan Sulampua.
Editor: Bali Putra









