Dari Kebun Pala ke Pasar Global, TEP 20 Unhas Bawa Petani Weri Saharey Masuk Ekosistem Digital

83
POTO: ISTIMEWA

 

BISNISSULAWESI.COM, FAKFAK  — Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 20 Universitas Hasanuddin (Unhas) mendorong transformasi digital bagi petani pala di Weri Saharey, Distrik Fakfak Timur, Kabupaten Fakfak, Papua Barat. Melalui Workshop dan Pelatihan Kader Digital Farming (DigiFarm), tim memperkenalkan sistem digital yang memungkinkan produksi, mutu, stok, dan informasi pasar pala dikelola secara lebih transparan dan terintegrasi.

Fakfak dikenal sebagai salah satu daerah penghasil pala unggulan (Myristica fragrans) yang memiliki nilai historis, ekologis, dan ekonomi. Namun, potensi tersebut masih menghadapi tantangan berupa panjangnya rantai distribusi konvensional, keterbatasan informasi, serta minimnya akses petani terhadap data produksi dan harga pasar yang akurat. Kondisi tersebut dapat memengaruhi posisi tawar petani dalam menentukan nilai jual komoditasnya.

TEP 20 Unhas menghadirkan platform Agromaritim-Hub berbasis Android yang dapat diakses melalui portal werisaharey.agromaritimhub.com. Platform ini dikembangkan sebagai sistem terintegrasi untuk mendukung pengelolaan rantai pasok pala dari tingkat petani hingga calon pembeli.

Melalui dashboard Agromaritim-Hub, informasi pemetaan lahan, catatan panen, kualitas pala, harga pasar Fakfak, hingga ketersediaan stok di gudang koperasi atau Badan Usaha Milik Kampus (BUMKam) dapat dicatat dan dipantau secara terpusat serta real-time. Petani juga dilatih melakukan pencatatan secara daring mengenai fluktuasi produksi, spesifikasi mutu, dan stok riil sehingga informasi tersebut dapat diakses oleh pembeli dari luar wilayah secara end-to-end.

Bagi masyarakat, penerapan teknologi tersebut membuka peluang untuk memperluas akses pasar sekaligus memperkuat posisi tawar. Kepala Kampung Weri-Saharey, Marten, menyampaikan apresiasinya terhadap program tersebut.

“Program ini sangat bermanfaat bagi masyarakat kami karena membantu mencarikan pemasaran komoditi pala kami ke pedagang besar eksportir-importir di kampung kami. Kami tidak bergantung lagi dengan pedagang lokal, di mana harga pala kami dibeli rendah. Semoga dengan pedagang eksportir/importir bisa memperoleh harga yang lebih tinggi lagi,” ujar Marten.

Hal serupa disampaikan Ahir Samahe. Menurutnya, pelatihan DigiFarm membantu petani membagikan informasi hasil produksi kepada calon pembeli di luar wilayah.

“Kami sangat berterima kasih atas program yang dilakukan oleh Tim Ekspedisi Patriot 20 Universitas Hasanuddin. Kami sangat terbantu, bisa berbagi data hasil produksi kami kepada pedagang luar. Tentu kami berharap memperoleh harga yang lebih tinggi,” paparnya.

Pengalaman menggunakan teknologi digital juga menjadi hal baru bagi kader DigiFarm dari Kampung Saharey, Fitri Yani Arbakala. Ia mengaku mendapatkan pengalaman baru dalam melakukan pencatatan hasil produksi melalui telepon seluler.

“Kegiatan pencatatan secara digital ini pertama kali saya lakukan. Saya terkesan sekali karena bisa menginput data ke dalam HP. Saya berharap data dan informasi yang kami input ke dalam sistem Agromaritim-Hub ini bisa dilihat oleh pedagang besar. Kami berharap harga pala kami dihargai lebih tinggi,” jelas Fitri.

Pelaksanaan program tersebut merupakan bagian dari tujuan TEP 20 Unhas untuk mengidentifikasi kebutuhan dan potensi kawasan Weri Saharey, menghubungkan pengetahuan saintifik dengan masyarakat, mempercepat adopsi teknologi tepat guna, mendorong kolaborasi lintas sektor, serta menghasilkan dampak nyata bagi masyarakat dan ekonomi kawasan.

Melalui pendekatan DigiFarm, petani tidak hanya diperkenalkan pada penggunaan perangkat digital, tetapi juga dibekali kemampuan mengelola data sebagai bagian dari proses pengambilan keputusan dan penguatan rantai pasok. Data yang terkumpul diharapkan menjadi dasar untuk mempertemukan produksi petani dengan kebutuhan pasar secara lebih terbuka dan terukur.

Inisiatif ini juga mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Penguatan posisi tawar dan peluang peningkatan pendapatan petani berkontribusi pada SDGs 1 (Tanpa Kemiskinan). Peningkatan literasi digital dan kapasitas petani melalui pelatihan mendukung SDGs 4 (Pendidikan Bermutu). Sementara itu, keterhubungan petani dengan pemerintah, dunia usaha, mitra teknologi, dan pasar melalui platform digital memperkuat SDGs 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan).

Kegiatan yang berlangsung pada 21–23 Agustus 2026 tersebut diikuti 40 petani dari Kampung Weri dan Kampung Saharey. Sebanyak 25 persen peserta merupakan perempuan yang telah memiliki telepon seluler, menjadi salah satu modal awal dalam penerapan teknologi berbasis mobile di tingkat masyarakat petani. Untuk mengukur efektivitas pelatihan, peserta mengikuti pre-test sebelum kegiatan dan post-test setelah seluruh rangkaian pelatihan selesai.

Dengan hadirnya Agromaritim-Hub, pengelolaan komoditas pala di Weri Saharey mulai diarahkan pada sistem yang lebih terbuka, berbasis data, dan terhubung dengan pasar. TEP 20 Unhas mendorong agar digitalisasi tersebut tidak berhenti pada penggunaan teknologi, tetapi berkembang menjadi ekosistem yang mampu memperkuat posisi petani, memperluas akses pasar, dan meningkatkan nilai ekonomi pala secara berkelanjutan.