NEA: Singapura Berisiko Dilanda Kabut Asap jika Kondisi Kering dan Titik Api Berlanjut

112
Keterangan Foto: Ilustrasi suasana malam berkabut di Geylang Road, Singapura. Singapura berpotensi dilanda kabut asap (haze) jika kondisi cuaca kering dan titik api (hot spots) di kawasan regional terus berlangsung dalam sepekan ke depan. (BS/Foto: Wayan Susena)

 

BISNISSULAWESI.COM, SINGAPURA — Singapura berpotensi dilanda kabut asap (haze) jika kondisi cuaca kering dan titik api (hot spots) di kawasan regional terus berlangsung dalam sepekan ke depan, kata Badan Lingkungan Nasional Singapura (National Environment Agency/NEA), Minggu 9 Agustus 2026.

NEA menyebut kondisi kering dalam beberapa waktu terakhir telah memicu munculnya titik api dan kepulan asap di sejumlah wilayah Sumatra dan Kalimantan, Indonesia. Dengan kondisi angin yang bertiup dari tenggara, kabut asap berpotensi terbawa menuju Singapura, terutama dari titik api di wilayah Sumatra bagian selatan.

“Kondisi kering diperkirakan berlanjut dalam sepekan mendatang, yang dapat meningkatkan risiko kabut asap jika kebakaran terus berlangsung,” kata NEA dalam keterangan yang dirilis The Straits Times pada Minggu 9 Agustus 2026.

Pada pukul 13.00 waktu setempat, indeks standar polutan atau Pollutant Standards Index (PSI) 24 jam di wilayah tengah Singapura berada pada angka 81. Angka tersebut masih berada dalam kategori sedang.

NEA mengatakan 28 lembaga pemerintah yang tergabung dalam Government’s Haze Task Force telah bersiap menjalankan rencana penanganan kabut asap masing-masing jika kualitas udara memburuk hingga kategori tidak sehat, yakni ketika PSI 24 jam mencapai lebih dari 100.

NEA menyatakan akan terus memantau perkembangan situasi kabut asap dan memberikan informasi terbaru apabila terjadi perubahan kondisi. Jika PSI 24 jam memasuki kategori tidak sehat, pemerintah akan menerbitkan informasi dan imbauan kabut asap setiap hari.

Dalam imbauan harian tersebut, NEA akan mencantumkan, prakiraan PSI 24 jam yang dapat digunakan masyarakat untuk merencanakan aktivitas dan kegiatan pada hari berikutnya.

NEA juga mengimbau masyarakat memantau konsentrasi PM2,5 per jam sebagai indikator kondisi kualitas udara terkini. Informasi mengenai panduan konsentrasi PM2,5 per jam tersedia melalui situs resmi NEA dan dapat menjadi pertimbangan masyarakat sebelum melakukan aktivitas di luar ruangan atau kegiatan fisik berat.

Menurut NEA, konsentrasi PM2,5 per jam dapat berubah dengan cepat sepanjang hari akibat kondisi cuaca, terutama ketika terjadi kabut asap lintas batas.

Untuk mengurangi dampak kabut asap, masyarakat disarankan mengurangi aktivitas dan olahraga di luar ruangan serta menjaga kecukupan cairan dengan minum air.

Kelompok rentan, seperti lanjut usia, ibu hamil, anak-anak, serta masyarakat dengan penyakit kronis jantung dan paru-paru, diminta lebih waspada. Mereka disarankan memastikan obat-obatan yang diperlukan tersedia dan segera mendapatkan pertolongan medis apabila mengalami gejala atau merasa tidak sehat.

Wayan Susena