Mahasiswa KKN-T Unhas Edukasi Siswa SD Negeri 28 Parepare Pilah Sampah Sejak Dini

90
Mahasiswa KKN-T Pengelolaan Sampah Gelombang 116 Unhas mengedukasi siswa SDN 28 Parepare terkait pemilahan sampah sejak dini sebagai upaya menanamkan kepedulian terhadap lingkungan. POTO: ISTIMEWA

 

BISNISSULAWESI.COM, PAREPARE – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) Pengelolaan Sampah Gelombang 116 Universitas Hasanuddin (Unhas) menggelar edukasi dan praktik pemilahan sampah di UPTD SD Negeri 28 Kota Parepare sebagai upaya menanamkan kepedulian terhadap lingkungan sejak usia dini.

Kegiatan bertajuk “Edukasi dan Praktik Pemilahan Sampah Sejak Dini sebagai Upaya Penguatan Tata Kelola Lingkungan Berkelanjutan” tersebut diikuti siswa-siswi SD Negeri 28 dengan antusias. Program ini bertujuan meningkatkan pemahaman siswa mengenai pentingnya memilah sampah sejak dari sumbernya sebagai bagian dari pembentukan perilaku ramah lingkungan.

Penanggung jawab kegiatan, Adiba Dhea Cahyani, mengatakan kebiasaan memilah sampah organik dan anorganik perlu diperkenalkan sejak usia sekolah agar menjadi budaya yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Para siswa diharapkan dapat menerapkan kebiasaan memilah sampah di rumah maupun di sekolah, sehingga langkah kecil yang mereka lakukan, dapat memberikan dampak besar bagi kebersihan dan keberlanjutan lingkungan di masa depan. POTO: ISTIMEWA

“Permasalahan sampah bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat. Melalui edukasi sejak dini, kami berharap anak-anak dapat menjadi agen perubahan yang membawa kebiasaan baik ini ke rumah, sekolah, dan lingkungan sekitarnya,” ujar Adiba.

Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa KKN-T menyampaikan materi mengenai pengertian sampah, jenis-jenis sampah, sumber sampah, dampak pencemaran lingkungan akibat sampah, serta pentingnya pemilahan sampah organik dan anorganik. Penyampaian materi dilakukan secara interaktif dengan bantuan media bergambar agar mudah dipahami para siswa.

Usai sesi penyampaian materi, siswa mengikuti praktik pemilahan sampah melalui permainan edukatif. Mahasiswa membagikan kartu bergambar berbagai jenis sampah, seperti sisa makanan, daun, botol plastik, kaleng, kertas, kaca, dan kemasan makanan. Secara bergantian, siswa diminta mengidentifikasi gambar yang diperoleh, kemudian menentukan apakah sampah tersebut termasuk kategori organik atau anorganik.

Suasana pembelajaran berlangsung interaktif dan penuh semangat. Para siswa aktif menjawab pertanyaan, mengangkat kartu bergambar, serta berdiskusi bersama teman-temannya. Melalui metode belajar sambil bermain, mereka tidak hanya memahami konsep pemilahan sampah secara teori, tetapi juga memperoleh pengalaman langsung dalam mengelompokkan sampah sesuai jenisnya.

Menurut Adiba, program tersebut juga mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya Tujuan 4 tentang Pendidikan Berkualitas, Tujuan 11 mengenai Kota dan Permukiman Berkelanjutan, Tujuan 12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab, serta Tujuan 13 mengenai Penanganan Perubahan Iklim.

Ia berharap edukasi tersebut dapat mendorong lahirnya kebiasaan positif di kalangan siswa sehingga praktik pemilahan sampah tidak hanya dilakukan di sekolah, tetapi juga diterapkan di lingkungan keluarga dan masyarakat.

“Kami berharap kebiasaan memilah sampah dapat terus diterapkan oleh adik-adik, baik di rumah maupun di sekolah. Langkah sederhana ini diharapkan mampu memberikan dampak nyata bagi kebersihan dan kelestarian lingkungan di masa depan,” katanya.

Editor: Wayan Susena