Ekspor Sulsel Alami Penurunan Signifikan 0,81 Miliar USD di Semester I-2026

109
Ekspor Sulsel mengalami penurunan signifikan 0,81 miliar USD di semester I-2026. POTO: DOK. BISNISSULAWESI.COM

 

BISNISSULAWESI.COM, MAKASSAR – Secara kumulatif, ekspor Sulawesi Selatan (Sulsel) semester I-2026 mengalami penurunan signifikan mencapai 0,81 miliar USD. Disebabkan menurunnya dua komoditas ekspor unggulan penyumbang devisa tertinggi Sulsel yakni Mate Nikel dan Paduan Fero.

Kepala Bidang Kepabeanan dan Cukai Kanwil Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) Sulawesi Bagian Selatan (Sulbagsel), Alimuddin Lisaw menyebutkan hingga Juni 2026, neraca perdagangan mencatat surplus 65,68 juta USD dengan total nilai ekspor 139,00 juta USD dan impor Rp73,71 USD.

Meskipun mengalami kontraksi, Mate Nikel masih mendominasi sebesar 50,1 persen, sedangkan impor didominasi Bungkil 16,8 persen.

“Secara kumulatif ekspor memang mengalami penurunan signifikan 0,81 miliar USD di paruh pertama 2026. Sedangkan impor, tumbuh 0,51 miliar USD,” ujar Alimuddin Lisaw saat memberi keterangan pers di Gedung Keuangan Negara (GKN) II Makassar, Rabu (29/07/2026).

Lima komoditas ekpor unggulan penyumbang devisa Sulsel diantaranya Mate Nikel 400,6 juta USD atau berkontribusi 50,1 persen dari total devisa ekspor Sulsel. Komoditas ini mengalami penurunan 5,0 persen.

Kemudian komoditas rumput laut berkontribusi 9,4 persen dengan nilai devisa 75,7 juta USD atau tumbuh 5,2 persen, kemudian Produk Kakao berkontribusi 7,0 persen sebesar 56,1 juta USD, tumbuh 5,7 persen.

Paduan Fero berkontribusi 5,5 persen sebesar 44,4 juta USD (terkontraksi signifikan 76,6 persen) dan Karaginan berkontribusi 4,8 persen sebesar 38,9 juta USD (tumbuh 16,2 persen).

Jepang menjadi negara tujuan ekspor terbesar komoditas Sulsel senilai 427,07 juta USD, disusul China 204,88 juta USD, Amerika Serikat 32,97 juta USD, Malaysia 14,51 juta USD, dan lainnya 109,85 juta USD.

Sementara dari sisi impor, lima komoditas impor penyumbang devisa tertinggi yakni Bungkil Kedelai yang berkontribusi16,8 persen sebesar 86,2 juta USD (tumbuh 35,4 persen), Gandum berkontribusi 15,6 persen sebesar 80,3 juta USD (Terkontraksi 11,3 persen), kemudian Minyak Petrolium berkontribusi 13,9 persen sebesar 71,5 juta USD (tumbuh signifikan 330,6 persen), Gula berkontribusi 10,3 persen sebesar 53,1 juta USD (terkontraksi 16,7 persen), dan Perangkat Teknis Khusus yang berkontribusi 7,4 persen sebesar 38,1 juta USD.

“Lima negara pengimpor terbesar China, Brazil, Singapura, Thailand, dan Australia,” sebutnya.

Dalam mendukung industri dan perekonomian, Kanwil DJBC Sulbagsel memberikan fasilitas 10 kawasan berikat dan sati KITE (Kemudian Impor Tujuan Ekspor). Fasilitas industri dari aspek kepabeanan dan cukai berupa fiskal dan non fiskal, menunjukkan dukungan pertumbuhan industri yang memadai.

“Ini, bertujuan untuk mendorong pertumbuhan nilai ekspor dari sektor pertambangan dan pengolahan yang saat ini mampu menyerap 3.330 tenaga kerja,” jelas Alimuddin.

Dari 10 kawasan berikat terdapat Bea Masuk dibebaskan Rp12,76 miliar, PPN tidak dipungut Rp39,41 miliar, dan PPh tidak dipungut Rp9,84 miliar dengan menyerap 3.111 tenaga kerja. Sementara dari satu fasilitas KITE terdapat Bea Masuk dibebaskan Rp15,36 miliar dan PPN tidak dipungut Rp35,5 miliar dengan menyerap 219 tenaga kerja.

Dari pemberian fasilitas tersebut, berdampak tambahan nilai investasi sebesar 17,814 juta USD dengan pertumbuhan ekonomi di sekitar Perusahaan pengguna fasilitas berupa 216 unit usaha rumah tangga, 173 unit usaha kecil, 51 unit usaha sedang, dan 25 unit usaha besar yang rata-rata bergerak di bidang perdagangan, akomodasi, makanan dan transportasi.

Bali Putra