Peneliti Unhas Hadirkan Produk Lebih Alami dan Efisien untuk Mengolah Gula Aren

97
Prof. Syahidah (Kerudung kuning). POTO: ISTIMEWA

 

BISNISSULAWESI.COM, MAKASSAR – Selama puluhan tahun, gula aren diproduksi masyarakat dengan cara yang nyaris tidak berubah. Prosesnya memakan waktu berjam-jam dan umumnya mengandalkan bahan tambahan untuk menghasilkan produk yang diinginkan. Padahal, di balik metode tradisional tersebut, gula aren menyimpan potensi besar sebagai komoditas lokal bernilai ekonomi tinggi yang dapat dikembangkan menjadi produk pangan berdaya saing.

Melihat peluang tersebut, Guru Besar Fakultas Kehutanan Universitas Hasanuddin (Unhas), Prof. Syahidah memulai penelitian sejak 2016. Bukan sekedar menciptakan produk baru, Prof. Syahidah bersama tim merancang cara pengolahan gula aren yang lebih efisien, menghasilkan mutu yang lebih konsisten, sekaligus tetap mempertahankan karakter alami gula aren.

Penelitian yang dilakukan melahirkan empat inovasi produk gula aren serta teknologi pengolahan yang mampu memangkas waktu produksi hingga sekitar 50 persen. Jika sebelumnya proses pembuatan gula aren serbuk membutuhkan waktu sekitar tujuh hingga delapan jam, teknologi yang dikembangkan tim peneliti Unhas mampu menyelesaikannya hanya dalam waktu sekitar tiga setengah hingga empat jam.

“Gula aren sangat dekat dengan kehidupan masyarakat. Saat kami memulai penelitian pada 2016, belum ada informasi mengenai standar kualitas gula aren yang diproduksi dan beredar di Sulawesi Selatan. Padahal, potensinya sangat besar dan menjadi sumber penghasilan masyarakat di banyak daerah,” jelas Prof. Syahidah.

Penelitian tersebut berangkat dari besarnya potensi tanaman aren di Sulawesi Selatan yang hampir tersebar di seluruh kabupaten. Namun, hingga saat itu belum tersedia acuan mengenai standar mutu gula aren yang diproduksi masyarakat, sementara permintaan terhadap produk ini terus meningkat.

Selain memangkas waktu produksi, inovasi yang dikembangkan juga menghilangkan penggunaan bahan pengawet maupun bahan tambahan lain yang lazim digunakan dalam pengolahan gula aren tradisional, seperti kemiri, kelapa parut, atau minyak goreng. Pendekatan ini menghasilkan produk yang lebih alami dengan kualitas yang lebih konsisten.

“Perbedaan produk kami dengan gula aren yang sudah beredar di pasaran adalah proses pembuatannya tidak menggunakan bahan pengawet maupun bahan tambahan lainnya yang umum digunakan oleh pengrajin gula aren,” tambah Prof. Syahidah.

Empat inovasi yang dikembangkan meliputi gula aren cair, gula aren kubus, gula aren serbuk, dan gula aren sachet. Dari empat produk tersebut, tiga di antaranya telah memperoleh izin edar BPOM RI, sedangkan produk gula aren sachet masih dalam proses penyelesaian administrasi.

“Bagi kami, izin edar merupakan pintu pembuka agar produk hasil riset dapat dipasarkan lebih luas dan memberikan manfaat yang lebih besar kepada masyarakat,” kata Prof. Syahidah.

Prof. Syahidah menuturkan, permintaan terhadap produk gula aren hasil risetnya sebenarnya telah datang sejak beberapa waktu lalu. Namun, tim memilih menunda perluasan pemasaran hingga seluruh aspek legalitas terpenuhi.

“Permintaan pasar sebenarnya sudah cukup tinggi. Namun kami memilih menahan perluasan pemasaran karena ingin memastikan seluruh persyaratan terpenuhi. Sekarang, setelah izin edar diperoleh, kami semakin percaya diri untuk memperluas distribusi dan menjangkau pasar yang lebih luas,” tambah Prof. Syahidah.

Sertifikat izin edar dari BPOM diserahkan pada kegiatan Akselerasi Kolaborasi Academia, Business, Government (ABG) yang diselenggarakan BPOM RI bekerja sama dengan Unhas di Ballroom Hotel Claro Makassar, Sabtu (11/07/2026).

Bagi Unhas, capaian tersebut menjadi bagian dari komitmen mempercepat hilirisasi hasil penelitian agar tidak berhenti sebagai luaran akademik, tetapi berkembang menjadi inovasi yang memberi nilai tambah, memperkuat ekonomi berbasis sumber daya lokal, dan menghadirkan dampak nyata bagi masyarakat.

Editor: Bali Putra