Singapura Kembali Jadi Kota Termahal bagi Kalangan Tajir, Lima Kota Asia-Pasifik Masuk 10 Besar Dunia

99
Laporan Julius Baer mencatat, Singapura merupakan kota dengan harga mobil termahal di dunia, serta peringkat ketiga untuk harga properti hunian secara global. POTO: EFFENDy WONGSO

 

BISNISSULAWESI.COM, MAKASSAR – Singapura kembali mempertahankan posisinya sebagai kota termahal di dunia bagi individu beraset tinggi (High-Net-Worth Individuals/HNWI) untuk tahun keempat berturut-turut. Hal itu terungkap dalam laporan terbaru yang dirilis bank swasta asal Swiss, Julius Baer.

Dominasi kota-kota di kawasan Asia-Pasifik dalam peringkat tersebut juga semakin menguat. Sebanyak lima kota di kawasan ini berhasil masuk dalam daftar 10 kota termahal dunia, meningkat dibandingkan tiga kota pada tahun sebelumnya. Selain Singapura, Hong Kong menempati posisi keempat, Shanghai peringkat keenam, Sydney di urutan kedelapan, dan Bangkok berada di posisi ke-10.

Secara global, demikian dilansir dari The Business Times, Selasa 7 Juli 2026, Singapura berada di atas Zurich dan Monako yang masing-masing menempati posisi kedua dan ketiga.

Posisi teratas Singapura didorong tingginya harga properti hunian dan kendaraan bermotor, dua komponen dengan bobot terbesar dalam Julius Baer Lifestyle Index, serta menguatnya nilai tukar dolar Singapura.

Singapura tercatat sebagai kota dengan harga mobil termahal di dunia dan menempati peringkat ketiga untuk harga properti hunian.

“Laporan tersebut menyebutkan, mata uang yang kuat dan didukung sistem politik yang stabil serta perekonomian yang tangguh, mencerminkan stabilitas dan daya tarik Singapura di tengah ketidakpastian global,” demikian diwartakan dalam laporan tersebut.

Asia-Pasifik Semakin Dominan

Sejumlah kota di Asia-Pasifik juga mencatatkan biaya tertinggi untuk berbagai barang dan jasa. Hong Kong menjadi kota termahal untuk layanan hukum, sementara Shanghai menduduki peringkat pertama sebagai kota dengan biaya bersantap mewah (fine dining) paling mahal di dunia.

Selain itu, kawasan Asia-Pasifik kini juga menjadi wilayah dengan biaya pendidikan Master of Business Administration (MBA) paling mahal secara global.

Laporan Julius Baer Global Wealth and Lifestyle Report 2026 disusun berdasarkan survei terhadap 360 individu beraset tinggi dari berbagai negara.

Ekonomi Asia-Pasifik Tetap Tangguh

Menguatnya dominasi kota-kota Asia-Pasifik sejalan dengan pertumbuhan ekonomi kawasan yang terus melampaui rata-rata dunia. Julius Baer memperkirakan produk domestik bruto (PDB) kawasan Asia-Pasifik akan tumbuh 4,5 persen pada 2026, jauh lebih tinggi dibandingkan proyeksi pertumbuhan ekonomi global sebesar 2,9 persen.

Laporan tersebut juga mencatat, kota-kota yang ditopang sektor teknologi berkembang lebih cepat, sementara wilayah yang masih bergantung pada industri tradisional mengalami perubahan dengan laju yang lebih lambat.

Meski menjadi rumah bagi sejumlah kota termahal di dunia bagi kalangan kaya, pertumbuhan harga di Asia-Pasifik masih berada di bawah rata-rata global.

Rata-rata harga di kawasan ini naik 7,4 persen dalam denominasi dolar Amerika Serikat, lebih rendah dibandingkan kenaikan rata-rata global sebesar 10,2 persen. Menurut laporan tersebut, apresiasi mata uang di berbagai kawasan lain lebih berperan dalam mendorong kenaikan harga global dibandingkan tekanan inflasi domestik di Asia-Pasifik.

Investor Perbanyak Diversifikasi

Akumulasi kekayaan di Asia-Pasifik tetap menunjukkan ketahanan. Sebanyak 90 persen responden melaporkan nilai aset mereka meningkat dalam 12 bulan terakhir.

Di sisi lain, ketidakpastian geopolitik dan kondisi ekonomi global mendorong investor lebih aktif menyesuaikan strategi investasinya.

Lebih dari 73 persen responden di Asia-Pasifik mengaku meningkatkan diversifikasi portofolio selama setahun terakhir. Dari jumlah tersebut, 53 persen menambah kepemilikan logam mulia sebagai instrumen lindung nilai, sedangkan 46 persen memperluas investasi ke berbagai kawasan geografis.

Kepala Perdagangan Valuta Asing dan Logam Mulia Asia Julius Baer, Chris Irwin, mengatakan emas kini memiliki peran yang semakin strategis dalam portofolio investasi.

“Dalam dunia yang semakin dipengaruhi dinamika geopolitik dan sanksi keuangan, keunggulan emas sangat jelas. Emas bersifat likuid, netral secara politik, dan tidak memiliki risiko pihak lawan (counterparty risk),” ujarnya.

Ia menambahkan, pembelian emas secara berkelanjutan dilakukan bank-bank sentral semakin memperkuat posisi emas sebagai aset moneter, sekaligus mengubah cara pandang investor terhadap logam mulia sebagai bagian strategis dari portofolio investasi.

Belanja Kesehatan Terus Meningkat

Pengeluaran untuk sektor kesehatan menjadi salah satu dari hanya dua kategori yang mengalami kenaikan di seluruh kawasan dunia, bersama dengan perjalanan wisata, memperkuat anggapan “health is the new wealth” atau kesehatan adalah kekayaan baru.

Di Asia-Pasifik, sebanyak 58 persen responden berencana meningkatkan pengeluaran untuk layanan kesehatan dalam 12 bulan mendatang. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan Eropa yang mencapai 33 persen dan Amerika Utara sebesar 40 persen.

Laporan itu juga mencatat, dampak perkembangan konflik di Timur Tengah belum tercermin dalam hasil survei karena pengumpulan data telah selesai pada awal Maret 2026.

Ekonom Julius Baer, Sophie Altermatt, mengatakan risiko geopolitik, meningkatnya proteksionisme, serta kerentanan fiskal masih membayangi prospek ekonomi global.

“Laporan tersebut menyimpulkan, dunia pada 2026 masih dipenuhi berbagai tantangan dan tingkat ketidakpastian tetap sangat tinggi. Dalam situasi seperti ini, kota dan negara yang stabil akan semakin menarik bagi para investor maupun individu beraset tinggi,” tutup Sophie. (EW)