Tumbuh 34,56 Persen, Outsanding Pinjaman Fintech P2PL di Sulsel Capai Rp2,39 Triliun

77
Grafis perkembangan sektor industri keuangan non bank (IKNB) di Sulsel. Sumber Grafis: OJK Sulselbar

 

BISNISSULAWESI.COM, MAKASSAR – Kinerja Industri Keuangan Non-Bank (IKNB) di Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) pada 2025, menunjukkan perkembangan yang relatif positif dan beragam antarindustri.

Kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Sulawesi Selatan dan Suawesi Barat (Sulselbar) mencatat, platform layanan jasa keuangan berbasis teknologi (digital) yang mempertemukan langsung pemberi pinjaman dengan penerima pinjaman, Fintech Peer to Peer Landing (P2PL) misalnya, tumbuh 34,56 persen. Di mana, outstanding pijamannya mencapai Rp2,39 triliun pada 2025 dari Rp1,78 triliun pada Desember 2024.

Selain Fintech P2PL, piutang pembiayaan juga tumbuh 0,14 persen, dari Rp18,98 triliun pada 2024 menjadi Rp19,01 triliun pada 2025. Modal ventura tumbuh 7,97 persen, dengan total pembiayaan Rp360 miliar pada 2025 dari Rp333 miliar pada 2024.

Total aset dana pensiun tumbuh 8,28 persen menjadi Rp1,74 triliun dari Rp1,60 triliun pada 2024. Total penjaminan lembaga penjaminan tumbuh 36,64 persen menjadi Rp1,01 triliun dari Rp738 miliar pada 2024.

Hanya saja, dari sisi industr perasuransi, total premi dan klaim asuransi mengalami kontraksi masing-masing sebesar -8,10 persen dan -16,82 persen. Total premi 2025 Rp3,20 triliun dari Rp3,48 triliun (2024), sedangkan total klaim menjadi Rp1,99 triliun dari Rp2,39 triliun pada 2024.

“Namun, secara keseluruhan, dinamika kinerja IKNB, menunjukkan bahwa sektor keuangan di Sulsel tetap berada pada jalur pertumbuhan yang positif dan adaptif,” ungkap Kepala OJK Sulselbar, Moch. Muchlasin, Selasa (03/03/2026).

Sementara itu, pada Januari 2026 terdapat 74 layanan terkait fintech P2Pl yang diterima terkait penanganan layanan konsumen di Kantor OJK Sulselbar.

OJK Sulselar telah menginisiasi 19 kegiatan edukasi keuangan tatap muka langsung maupun melalui kanal digital, dan berhasil menjangkau 288.063 peserta dari berbagai segmen, pelajar dan mahasiswa, pelaku UMKM, komunitas, hingga masyarakat umum.

Edukasi dilakukan secara kolaboratif bersama Industri Jasa Keuangan (IJK) dan pemerintah daerah, sebagai bentuk sinergi memperluas akses informasi dan pemahaman mengenai produk serta layanan keuangan yang legal dan logis.

Bali Putra