Performa Mate Nikel Anjlok, Ekspor Komulatif Sulsel Turun Tajam

75
Kepala Kanwil DJBC Sulbagsel, Martha Octavia (Tengah) saat memaparkan neraca perdagangan Sulsel Januari 2026 di GKN II Makassar, Rabu (25/02/2026). POTO: BALI PUTRA

 

BISNISSULAWESI.COM, MAKASSAR – Ekspor komulatif Sulawesi Selatan (Sulsel) Januari 2026 turun tajam ke 0,09 miliar USD, atau -46,9 persen dibandingkan periode sama tahun lalu sebesar 0,17 USD. Penurunan dipicu anjloknya performa mate nikel.

Sebaliknya, impor melonjak menjadi 0,08 miliar USD atau +49,1 persen dibanding 2025 sebesar 0,05 USD, akibat kenaikan drastis komoditas minyak patrolium dan gandum.

Hal itu disampaikan Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Sulawesi Bagian Selatan (Kanwil DJBC Sulbagsel), Martha Octavia di Gedung Keuangan Negara (GKN) II Makassar, Rabu (25/02/2026).

“Sehingga neraca perdagangan Sulsel Januari 2026 mencatatkan surplus tipis,” ujarnya.

Mate nikel menurus tajam sekitar 70,9 persen dibanding tahun lalu. Namun tetap mencatatkan devisa komoditas ekspor tertinggi dengan share 21,7 persen atau sekitar 18,10 juta USD.

Bersama empat komoditas penyumbang devisa ekspor tertinggi yakni produk kakao 17,8 juta USD dengan share 20,8 persen (tumbuh 140,2 persen), kemudian rumput laut 8,5 juta USD dengan share 10,4 persen (tumbuh 7,1 persen), paduan fero 7,2 juta USD dengan share 8,5 persen (terkontraksi 79,9 persen) dan karaginan 6,3 juta USD dengan share 7,3 persen (tumbuh 17,4 persen).

Lima negara tujuan ekspor terbesar yakni Cina, Jepang, USA, Vietnam, dan Taiwan.

“Terjadi penurunan drastic pada ekspor mate nikel, karena ada Perusahaan yang melakukan pengiriman terakhir pada Desember 2025, akibat berakhirnya kontrak,” sebut Martha.

Sementara dari sisi devisa komoditas impor, tertinggi gandum mencapai 17,5 juta USD dengan share 23,3 persen (tumbuh 87,1 persen), kemudian bungkil kedelai 15,2 juta USD dengan share 21,6 persen, minyak patrolium 11,3 USD share 15,4 persen (tumbuh signifikan 46.235,7 persen), biji kakao 3,9 juta USD share 5,2 persen (tumbuh 88,2 persen), dan reservoir, tangka 2,8 juta USD share 3,7 persen (tumbuh 703,1 persen).

Lima negara asal impor terbesar yakni Australia, Cina, Brazil, Singapura, dan Malaysia.

Hingga saat ini, Bea Cukai Sulbagsel masih memberikan fasiltas industri dari aspek kepabeanan dan cukai berupa fiskal dan non fiskal, menunjukkan dukungan pertumbuhan industri yang memadai. Hal ini bertujuan mendorong pertumbuhan nilai ekspor dari sektor pertambangan dan pengolahan yang saat ini mampu menyerap 3.116 tenaga kerja.

Setidaknya, ada 10 fasilitas berupa kawasan berikat  dan satu fasilitas kemudahan impor tujuan ekspor (KITE). Terdapat Rp1,1 miliar bea masuk (BM) ditangguhkan, Rp9,9 miliar PPN tidak dipungut dan Rp2,3 miliar PPh tidak dipungut akibat fasilitas kawasan berikat, serta Rp53,3 juta BM dibebaskan dan rp123,1 juta PPN tidak dipungut dari fasilitas KITE.

Namun demikian, pemberian fasilitas tersebut mampu menambah investasi 17,81 juta USD, termasuk memberi dampak pertumbuhan ekonomi di sekitar Perusahaan pengguna fasilitas diantaranya 216 unit usaha rumah tangga, 173 unit usaha kecil, 51 unit usaha sedang, 25 unit usaha besar yang bergerak di bidang perdagangan, akomodasi, makanan, dan transportasi.

“Oleh karenanya, kami selalu siap memberikan asitensi terkait kawasan berikat untuk Perusahaan yang fokus ekspor, dan fasilitas KITE untuk Perusahaan yang semi ekspor,” tambah Martha.

Sementara itu, secara umum, Martha menyebutkan, realisasi penerimaan Kepabeanan dan Cukai hingga 31 Januari 2026 mencapai Rp16,8 miliar atau 4,49 persen dari target Rp373,4 miliar, yang terdiri dari Bea Masuk sebesar Rp10,5 miliar, Bea Keluar Rp3,6 miliar, dan Cukai Rp2,7 miliar.

Tahun lalu, Bea Cukai Sulbagsel berhasil mencatatkan kinerja positif dengan penerimaan sepanjang 2025, tembus di angka 122,33 persen, mencapai Rp392,7 miliar dari target Rp320,5 miliar. Terdiri dari Bea Masuk sebesar Rp233,7 miliar, Bea Keluar Rp51,2 miliar, dan Cukai Rp107,2 miliar.

Bali Putra