BISNISSULAWESI.COM, MAKASSAR – Pengamat ekonomi Universitas Hasanuddin (Unhas), Marsuki DEA menyebut tiga sektor yang akan menjadi mesin pertumbuhan pesat ekonomi Sulawesi Selatan (Sulsel) pada 2026. Ketiga sektor tersebut, sektor industri pengolahan, sektor transportasi dan logistik, serta sektor informasi dan komunikasi.
Hal itu disampaikan Marsuki DEA saat menjadi narasumber pada Malam Mitra Harmoni yang digelar Bank Perekonomian Rakyat (BPS) Hasamitra di UpperHills Convention Hall Makassar, Sabtu (21/02/2026).
Menurut Marsuki, sektor industri pengolahan menjadi mesin pertumbuhan paling pesat, mengingat transformasi dari eksportir bahan mentah menjadi eksportir produk olahan seperti nikel, rumput laut dan kakao.
Kemudian, sektor transportasi dan logistik, adanya efisiensi biaya distribusi berkat integrasi pelabuhan hub dan jalur kereta api. Sedangkan sektor informasi dan komunikasi, terkait akselerasi ekonomi digital yang mendorong efisiensi bisnis lokal.
“Sulsel diproyeksikan tetap menjadi lokomotif ekonomi di Kawasan Timur Indonesia dengan performa yang stabil,” sebutnya.
Marsuki menambahkan, pertumbuhan ekonomi diproyeksi mencapai 5,8 persen di atas rata-rata nasional, dengan pendorong utama hilirisasi mineral, konektivitas logistik (KA Trans Sulawesi dan Makassar New Port), dan digitalisasi UMKM.
Indikator utamanya, inflasi terkendali di 2,5 ± 1 persen dan kesejahteraan petani (NTP) yang terus menguat di atas angka 120.
“TPT Sulsel 2026 diperkirakan berada di kisaran 4,05 – 4,30 persen, dan angka kemiskinan Sulsel berada di kisaran 8,10 – 8,35 persen,” tambahnya.
Meskipun prospek ekonomi 2026 cenderung positif, Marsuki DEA mengingatkan untuk mewaspadai dan memitigasi sejumlah risiko, diantaranya risiko inflasi pangan, ketidakpastian regulasi tambang, keterlambatan infrastruktur, dan bencana hidrometeorologi.
Risiko inflasi pangan, diantaranya diakibatkan stimulus permintaan dari program MBG, jika tidak diimbangi dengan kesiapan sisi suplai, dapat memicu inflasi harga pangan lokal seperti telur, daging, beras. Langkah mitigasi yang dapat dilakukan, penguatan tim pengendali inflasi daerah (TPID), operasi pasar, dan fasilitas distribusi pangan antardaerah.
Ketidakpastian regulasi tambang, kebijakan kuota RKAB yang kaku dapat menghambat investasi hilirisasi. Langkah mitigasi yang dapat dilakukan, dialog intensif antara pemerintah daerah, pusat dan pelaku usaha untuk mencari titik temu antara stabilitas harga nikel dan kepastian pasokan industri.
Keterlambatan infrastruktur, kata Marsuki, jika pembebasan lahan kereta api terus berlarut-larut, kepercayaan investor terhadap efisiensi logistik Sulsel dapat tergerus. Mitigasinya, melakukan pendekatan konsinyasi lahan dan skema pembiayaan alternatif (KPBU).
Terakhir, bencana hidrometeorologi. Meskipun La Nina berakhir, cuaca ekstrim sesaat(hujan lebat durasi pendek) masih berpotensi menyebabkan banjir, genangan di perkotaan (Makassar) dan longsor di dataran tinggi. Mitigasinya, perbaikan drainase kota dan tata kelola lingkungan hulu.
Bali Putra









