Perkuat Logistik Kawasan Timur, TransContinent Operasikan PLB di Gorontalo

63
Perusahaan logistik yang melayani jasa ekspor dan impor global, PT TransContinent, memperluas jaringan bisnisnya dengan membuka PLB di Gorontalo. Kehadiran fasilitas ini diharapkan menjadi katalis penguatan ekosistem logistik dan perdagangan internasional di kawasan Indonesia Tengah dan Timur. POTO: ISTIMEWA

 

BISNISSULAWESI.COM, JAKARTA – PT TransContinent, perusahaan logistik yang melayani jasa ekspor dan impor global, memperluas jaringan bisnisnya dengan membuka Pusat Logistik Berikat (PLB) di Provinsi Gorontalo.

Kehadiran fasilitas ini diharapkan menjadi katalis penguatan ekosistem logistik dan perdagangan internasional di kawasan Indonesia Tengah dan Timur.

PLB merupakan fasilitas fiskal dari Kementerian Keuangan melalui Direktorat Jenderal Bea dan Cukai yang memungkinkan pelaku usaha menimbun barang impor maupun ekspor di lokasi tertentu dengan penangguhan bea masuk dan pajak, sambil menunggu proses lebih lanjut. Barang dapat ditimbun hingga jangka waktu maksimal tiga tahun, sehingga memberikan fleksibilitas dan efisiensi dalam pengelolaan rantai pasok.

Kepastian operasional PLB PT TransContinent di Gorontalo disampaikan langsung Kepala Kantor Wilayah Bea Cukai Sulawesi Bagian Utara, Zaky Firmansyah, usai pemaparan proses bisnis perusahaan di Jakarta.

“Kami sangat mendukung PT TransContinent untuk menghadirkan layanan logistik yang kuat, khususnya bagi kawasan Tengah dan Timur Indonesia,” ujar Zaky.

Namun demikian, Ia menekankan pentingnya kepatuhan terhadap ketentuan dan regulasi yang berlaku dalam pelaksanaan usaha.

Dukungan juga disampaikan Kepala Bea Cukai Gorontalo, Ade Zirwan. Menurutnya, kehadiran PLB TransContinent merupakan langkah strategis dalam memperkuat daya saing pelaku usaha di daerah.

“Kehadiran PLB TransContinent merupakan langkah penting untuk memberikan dukungan nyata bagi pelaku ekspor impor dan pelaku usaha lokal. Fasilitas ini akan membantu dunia usaha dalam mengelola logistik secara lebih efisien, cepat, dan kompetitif,” ujar Ade.

CEO PT TransContinent, Ismail Rasyid, mengapresiasi dukungan pemerintah pusat dan daerah, termasuk Bea Cukai, dalam mendorong kelancaran operasional perusahaan.

“Semoga keberadaan PLB di Gorontalo dapat mempercepat proses ekspor impor di kawasan Timur Indonesia, yang selama ini masih sangat bergantung pada pelabuhan utama di Pulau Jawa. Dukungan dari Pemerintah Provinsi Gorontalo dan Bea Cukai Gorontalo menjadi faktor penting dalam pengembangan layanan ini,” kata Ismail.

Keberadaan PLB TransContinent di Gorontalo diharapkan mampu memberikan dampak signifikan bagi industri pertambangan, agroindustri, peternakan, serta sektor-sektor produktif lain.

Dengan adanya fasilitas penimbunan dan distribusi yang lebih dekat ke sumber produksi, pelaku usaha dapat menekan biaya logistik, mengurangi waktu tunggu pengiriman, serta meningkatkan kepastian usaha.

Dalam jangka panjang, efisiensi ini diharapkan mendorong peningkatan aktivitas ekonomi daerah, memperkuat kepercayaan investor, dan meningkatkan reputasi Indonesia sebagai tujuan investasi dan perdagangan internasional.

“Dengan aktifnya PLB ini, kami berharap dapat memfasilitasi pengiriman langsung (direct shipment) dari luar negeri ke lokasi PLB, sehingga rantai logistik menjadi lebih pendek dan efisien,” tambah Ismail.

Saat ini PT TransContinent memiliki sekitar 400 karyawan dan armada darat lebih dari 300 unit yang beroperasi di berbagai wilayah Indonesia, dengan jaringan 22 cabang di dalam negeri serta dua cabang di Australia dan Filipina. Perusahaan ini juga tercatat sebagai perusahaan logistik pertama di Indonesia yang memperoleh sertifikasi pengangkutan sianida, yang banyak digunakan dalam industri pertambangan emas.

Selain pengembangan PLB, PT TransContinent juga mengelola lahan seluas 18 hektare di Gorontalo untuk berbagai kegiatan usaha, antara lain penggemukan sapi guna mendukung ketahanan pangan, pembangunan pabrik virgin coconut oil (VCO), pabrik pengolahan nilam, serta industri pengolahan kelapa seperti arang dan karbon aktif. Berbagai investasi tersebut diharapkan dapat membuka lapangan kerja baru dan memberikan dampak langsung bagi pertumbuhan ekonomi daerah.

Secara ekonomi, Provinsi Gorontalo memiliki potensi ekspor yang terus berkembang. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan, nilai ekspor Gorontalo November 2025 mencapai US$8,35 juta, meningkat signifikan dibanding bulan sebelumnya, dengan komoditas utama pelet kayu dan produk turunan pertanian.

Selain itu, sektor pertambangan dan penggalian juga menjadi salah satu penopang pertumbuhan ekonomi daerah, seiring meningkatnya aktivitas industri primer di wilayah tersebut.

Dengan dukungan infrastruktur logistik yang semakin memadai, Gorontalo diharapkan dapat memperkuat perannya sebagai simpul perdagangan dan distribusi di kawasan Indonesia Timur.

Editor: Bali Putra