Bea Cukai Sulbagsel Siap Tambah Fasilitas Kepabeanan dan Cukai, Dukung Industri dan Ekonomi

199
Kepala kanwil DJBC yang juga Kaper Kemenkeu Sulsel, Djaka Kusmartata saat rilis APBN Sulsel 2025, bersama Kepala Kanwil DJPb Sulsel, Supendi, Kepala Bidang Data dan Pengawasan Potensi Perpajakan, Kanwil DJP Sulselbartra, Adnan Muis dan Kepala Bidang Kepatuhan Internal, Hukum, dan Informasi, Kanwil DJKN Sulseltrabar, Nandang Supriyadi dengan moderator, Widyaiswara BDK Makassar, Arfin, di GKN II Makassar, Senin (26/01/2026). POTO: BALI PUTRA

 

BISNISSULAWESI.COM, MAKASSAR – Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Sulawesi Bagian Selatan (Kanwil DJBC Sulbagsel), Djaka Kusmartata menyatakan siap menambah pemberian fasilitas kepaeanan dan cukai, untuk mendorong pertumbuhan industri dan perekonomian di wilayah Sulbagsel.

Meskipun menyebabkan adanya pengurangan potensi penerimaan dari Bea Masuk (BM), namun pemberian fasilitas kepabeanan dan cukai berupa fiskal dan non fiskal, diakui terbukti mampu mendorong pertumbuhan nilai ekspor dari sektor pertambangan dan pengolahan yang saat ini mampu menyerap 2.683 tenaga kerja.

“Juga menambah nilai investasi dan pertumbuhan ekonomi, utamanya di sekitar perusahaan pengguna fasilitas,” ujar Djaka Kusmartata saat memaparkan kinerja Bea Cukai Sulbagsel di Gedung Keuangan Negara (GKN) II Makassar, Senin (26/01/2026).

Kepala kanwil DJBC yang juga Kaper Kemenkeu Sulsel, Djaka Kusmartata saat memaparkan kinerja Bea Cukai Sulbagsel di GKN II Makassar, Senin (26/01/2026). POTO: BALI PUTRA

Djaka yang saat ini juga menjabat Kepala Perwakilan (Kaper) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Sulsel, menyebutkan, hingga saat ini, Bea Cukai Sulbagsel memberikan 10 kawasan berikat dengan potensi BM yang ditangguhkan Rp53,07 miliar, PPN ditangguhkan Rp153,09 miliar, dan PPh ditangguhkan sebesar Rp36,50 miliar, serta menyerap 2.436 tenaga kerja.

Kemudian, ada juga satu Kemudahan Impor Tujuan Ekspor (KITE) dengan potensi BM ditangguhkan Rp69,1 miliar, PPN ditangguhkan Rp124,3 miliar, dan menyerap 249 tenaga kerja.

Pemberian fasilitas kepaeanan dan cukai ini mampu menambah nilai investasi USD17,814, dan mendukung pertumbuhan ekonomi di sekitar perusahaan pengguna fasilitas berupa 216 unit usaha rumah tangga, 173 unit usaha kecil, 51 unit usaha sedang dan 25 unit usaha besar, yang bergerak di bidang perdagangan, akomodasi, makanan dan transportasi.

“Kami siap menambah fasilitas tersebut, namun, semuanya tergantung dari usulan dan kesiapan pelaku usaha,” sebut Djaka.

Ia menyebutkan, kinerja impor ekspor pengguna fasilitas kawasan berikat mencapai USD386 juta pada 2025, dengan komoditi ekspor teratas kawasan berikat yakni produk nikel dengan nilai devisa USD295,6 juta, kemudian karaginan dengan nilai devisa USD72,08 juta, dan kepiting dengan nilai devisa USD15,32 juta.

Sementara itu, kinerja penerimaan Bea Cukai Sulbagsel di wilayah Sulawesi Selatan sepanjang 2025, tembus 122,33 persen, mencapai Rp392,7 miliar dari target Rp320,5 miliar. Terdiri dari Bea Masuk sebesar Rp233,7 miliar, Bea Keluar Rp51,2 miliar, dan Cukai Rp107,2 miliar.

Selain itu, Djaka juga memaparkan, neraca perdagangan terus menunjukkan tren positif akibat adanya peningkatan ekspor produk kakao. Devisa ekspor komulatif mencapai USD1,98 miliar dan devisa impor komulatif sebesar USD1,04 miliar.

“Komoditas ekspor masih konvensional, jarang berubah dari waktu ke waktu dengan mate nikel, meskipun tahun 2025 terkontraksi dibandingkan 2024, tetapmenjadi yang tertinggi penyumbang devisa. Kemudian fero nikel, produk kakao, rumput laut, dan karaginan,” sebut Djaka.

Sementara dari komuditas impor, gandum menjadi yang tertinggi, kemudian gula, bungkil dan residu padat dari kedelai, minyak petroleum, serta aksesoris, sparepart, perangkat telepon seluler.

Bali Putra