Sambut Baik Program Wisata Halal, Pemda Torut Usulkan Moslem Friendly Destination

BISNIS SULAWESI, MAKASSAR – Pemerintah Kabupaten Toraja Utara menyambut baik rencana pencanangan wisata halal yang programkan oleh Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan.

Hal itu disampaikan oleh Kepala Dinas Pariwisata Torut, Harli Patriatno saat menemui wakil Gubernur, Andi Sudirman Sulaiman di Kantor Gubernur Pemprov Sulsel, Senin (4/3/2019). Ia menjelaskan, sejak tahun 2017 bersama MUI, pihaknya telah mendorong hadirnya sertifikasi halal.

Meski demikian, Ia mengusulkan agar program wisata halal tersebut diberi nama yang lebih mudah diterima masyarakat serta pas dengan kearifan lokal. “Moslem Friendly lebih mudah disosialisasikan dan diterima masyarakat saat ini,” sebutnya.

Diketahui, data PHRI Torut menyebutkan 73 persen wisatawan yang datang ke Toraja adalah wisatawan domestik dan hanya 27 wisatawan mancanegara. Bahkan hampir 75 persennya merupakan wisatawan muslim.

Melihat data destinasi wisata dan upaya yang telah dilakukan pemda Torut selama ini, konsep wisata Moslem Friendly dinilai punya potensi besar untuk dikembangkan. Sebagai tuan rumah, Torut dapat menyambut tamu wisatawan dengan ramah sesuai dengan kebutuhan fasilitas penunjang yang mereka butuhkan, dalam hal ini termasuk masalah makanan.

“Bukan berarti kami di Toraja haram, tetapi bagaimana kita mempersiapkan fasilitas bagi tamu kita yang kebetulan muslim. Paling tidak, kita mendorong ada rumah makan bersertifikat halal MUI. Kemudian kita mempersiapkan untuk mushollah. Pengertiannya itu bagaimana kita menyambut mereka nyaman dan enak selama berkunjung,” jelasnya.

Kepala Seksi Daya Tarik Wisata Sulsel, Takdir H. Wata menambahkan, saat ini Pemprov Sulsel tengah fokus pada pengembangan wisata Toraja. Adat dan budaya serta atraksi Toraja sebagai daya tarik sudah harga mati sebagai kearifan lokal yang tidak berubah. Namun yang saat ini digodok adalah adanya petunjuk spot-spot kebutuhan khusus untuk fasilitas dan kuliner ramah pengunjung muslim.

“Banyak pengunjung itu datang bingung makan dan salat, misalnya ke lokasi wisata masa harus balik ke penginapan dulu saat waktu makan dan salat. Harapan kita bagaimana restoran representatif nantinya bisa dipublikasikan secara online. Serta ada peta spot-spot fasilitas ibadah untuk kemudahan. Sehingga, yang ingin berkunjung ke Toraja, mengetahui tempat makan yang bisa menjadi pilihan mereka,” ujarnya.

Syamsi Nur Fadhila