PARIWISATA BISA TEKAN DEFISIT

Rammang-Rammang di kabupaten Maros, salah satu tujuan destinasi wisatawan lokal maupun mancanegara.

BISNIS SULAWESI, MAKASSAR — Defisit transaksi berjalan diperkirakan masih berlanjut tahun ini. Sektor pariwisata lah yang dinilai mampu meminimalisir defisit. Merujuk catatan Bank Indonesia, sektor pariwisata menyumbang devisa sebesar USD14,11 miliar sepanjang 2018. Sebelumnya, pada 2017 tercatat USD 13,1 miliar.

Saat berkunjung ke Makassar, Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo mengatakan, Sulsel sebagai hub Kawasan Timur Indonesia (KTI), harus memaksimalkan potensi yang dimilikinya, khususnya sektor pariwisata. “Rammang-rammang itu bagus, syaa yakin masih ada objek wisata lainnya yang menarik dikembangkan,” tuturnya.

Mendorong pariwisata, kata dia, sangat penting. Sebab, mampu berefek secara menyeluruh. Seperti pelaku UMKM, serta memberi kontribusi terhadap devisa.
Ketua Association of The Indonesian Tours and Travel Agencies (ASITA) Sulsel, Didi L Manaba, menganjurkan, para stakeholder pariwisata memberi atensi serius. Sebab, andilnya terhadap sumbanagan devisa lumayan signifikan. “Dari 2015 hingga 2018, data yang dirilis BI trend kontribusnya naik terus. Makanya, dukungan ke sektor pariwisata harus maksimal,” katanya, saat di hubungi Bisnis Sulawesi.
Menurutnya, terkait sektor pariwisata memang masih ada beberapa hal yang perlu dibenahi. Khususnya, infrastuktur pariwisata. Bukan hanya akses jalanan ke lokasi, tetapi tata kelola di lokasi pariwisata juga. Fasilitas umum misalnya, adalah suatu yang ahrus dibenahi secara berkelanjutan.

Bukan hanya itu saja, tambahnya, pemerintah pun kini juga perlu melakukan langkah intervensi. Utamanya harga tiket pesawat yang sejauh ini masih mahal.
Sementara itu, pengamat pariwisata, Bambang Herriyanto mengatakan, dari data UNWTO, wisatawan dunia pada 2018 lalu mencapai 1,4 miliar, tumbuh 6% dari 2017 sebesar 1,3 miliar. Sebaran ke Asia Pasifik juga mengalami peningkatan 4-5% menjadi 424 juta tahun 2018 dari sebelumnya 323 juta di tahun 2017.

“Pertumbuhan tersebut didorong oleh ekonomi yang stabil, perubahan teknologi, model bisnis baru, bebas visa dan tiket murah (Low Cost Carrier Concept). Tahun 2019 sampai 2020 diprediksi akan tumbuh positif, khususnya di Indonesia, pasca hajatan politik. Artinya terbuka peluang untuk merekrut lebih banyak wisman ke Sulsel,” ujar Bambang.

Kondisi ini, ungkapnya, harus dimanfaatkan para pelaku pariwisata, untuk meningkatkan kunjungan wisata ke Sulsel. Ada beberapa upaya yang perlu dilakukan, diantaranya membenahi kawasan wisata yang sudah ada, agar mampu menarik lebih banyak wisatawan, termasuk menyiapkan kawasan wisata halal.
“Andai saja setiap Kabupaten/Kota memiliki sedikitnya 3 (tiga) daya tarik wisata unggulan maka Sulsel memiliki 72 kawasan yang layak ditawarkan ke wisnus dan/atau wisman,” katanya./Komang Ayu