PERGURUAN TINGGI HARUS KREATIF DAN INOVATIF

BISNIS SULAWESI, MAKASSAR — Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah IX Sulawesi dan Dinas Pendidikan Provinsi Sulsel, kembali menggelar Sulawesi Education & Techno Expo 2019 beberapa waktu lalu di Celebes Convention Centre. Kurang lebih 85 perguruan tinggi di Indonesia, baik negeri maupun swasta, hadir dalam pameran ini.

Banyaknya jumlah perguruan tinggi saat ini, menjadi tantangan sendiri bagi masing-masing perguruan tinggi. Terlebih di zaman yang serba teknologi seperti sekarang, menuntut perguruan tinggi untuk lebih kreatif dan inovatif dalam mengembangkan metode pendidikan, yang ditawarkan kepada calon mahasiswa.

Insitut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya misalnya, meski berlatarbelakang kampus teknologi. Namun ITS kini mencoba mewadahi siswa lulusan jurusan IPS, dengan membuka jurusan Manajemen Bisnis.

“ITS ini kan masuk juga dalam lima besar universitas terbaik di Indonesia, yang bergerak di bidang sains dan teknologi. Namun saat ini, untuk siswa dari jurusan IPS kami juga wadahi. Salah satunya dengan membuka jurusan manajemen bisnis,” ungkap Pratino Aditya Tama, Staf Humas ITS, Kamis (14/2/2019).

Sebagai kampus yang berbasis teknologi, ITS tentunya lebih banyak memberi pelajaran dalam bentuk praktikum. Tak ingin ketinggalan dalam mengikuti perkembangan zaman, ITS juga mencoba merambah metode pembelajaran yang dinilai lebih efisien, seperti Kelas Jarak Jauh (KJJ).

“Di era revolusi industri 4.0 seperti sekarang, pola pendidikan yang bersifat konvensional kita kembangkan ke dunia digital. Yang saat ini tengah digarap di ITS adalah Kuliah Jarak Jauh (KJJ) untuk Program Pascasarjana,” paparnya.

Senada dengan ITS, salah satu kampus yang juga mengutamakan praktik dalam pembelajarannya ialah Politeknik Pariwisata Negeri Makassar. “Di Poltekpar Makassar itu 70 persen pembelajarannya adalah vokasi, selebihnya 30 persen itu materi. Jadi lebih banyak praktiknya. Karena memang lulusan Poltekpar disiapkan untuk langsung kerja. Jadi setiap tahun, setiap wisuda, kami langsung job fair,” ungkap Ayu, Staf Kemahasiswaan Politeknik Pariwisata Negeri Makassar.

Kampus yang berada dibawah naungan Kementerian Pariwisata RI ini mengusung kurikulum pengajaran, yang mengacu pada ASEAN Mutual Recognation Arrangement Tourism Professional atau ASEAN MRA-TP.

ASEAN MRA sendiri adalah pengaturan antara negara-negara ASEAN, yang dirancang untuk memfasilitasi mobilitas profesional pariwisata, untuk bertukar informasi tentang praktik kerja, baik dalam berkompetensi berbasis pendidikan dan pelatihan untuk profesional pariwisata.

Berbagai negara telah menjalin kerjasama dengan kampus ini. Realisasinya, mahasiswa Poltekpar Negeri Makassar dapat melakukan praktik kerja nyata atau job training hingga ke Malaysia, Thailand, bahkan Dubai, Uni Emirat Arab.

Jika kedua kampus tersebut fokus pada pembelajaran berbasis praktikum, lain halnya dengan Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen (STIM) Nitro Makassar. Kampus ii lebih banyak melakukan pembelajaran dengan basis teori. Utuk memaksimalkan hal tersebut, STIM Nitro tak menggunakan adanya sistem asisten dosen atau asdos.
“STIM Nitro tidak memakai sistem asisten dosen. Jadi dosen-dosennya itu mengajar langsung di kelas. Dosennya pun berasal dari berbagai praktisi perbankan, pegadaian, hingga perpajakan,” ujar Ceska Kusumadewi, Ketua Jurusan D3 Manajemen STIM Nitro Makassar.

Ceska menambahkan, kedepannya STIM Nitro akan membuka kelas fleksibel. Dimana kelas fleksibel ini, tak mengharuskan lagi kegiatan belajar mengajar dilaksanakan di dalam kelas seperti pada umumnya.

“Kedepan, kami ada kerjasama dengan Google Classroom dan Microsoft. Kami akan adakan kelas fleksibel, dimana nantinya mahasiswa tidak perlu lagi tatap muka langsung dengan dosen tapi kuliah dengan memanfaatkan teknologi,” jelasnya.
/Syamsi Nur Fadhila