DAMPAK BANJIR TERHADAP PEREKONOMIAN SULSEL

Basri Basir MR SE.,M.Ak.,CBC -- Ketua Inkubator Kewirausahan Unismuh Makassar & Praktisi Coach Star Up , UMKM

BISNIS SULAWESI, MAKASSAR — Beberapa hari yang lalu, seperti yang telah kita ketahui bersama, banjir melanda kota Makassar, dan secara keseluruhan Sulawesi Selatan, seperti Gowa, Jeneponto, Maros, Wajo dan Barru.

Tentu sebagai warga Sulsel, saya mengucapkan belasugkawa atas peristiwa yang menimpa tersebut, dan turut berduka atas meninggalnya masyarakat yang terkena dampak banjir, tanah longsor, dan lainnya. Menurut data BNPB, saat tulisan ini dibuat, tercatat sudah sekitar 54 orang dinyatakan meninggal dunia.

Siapapun dari kita, tentu secara personal tidak dapat memprediksi bencana yang terjadi selain BMKG. Namun kita selalu berharap kejadian ini tidak terjadi lagi, dan semoga kita selalu siap siaga dalam menghadapi bencana, dalam situasi cuaca yang tidak menentu seperti sekarang.

Saat ini, menurut data statistik, masih dihitung jumlah kerugian yang ditimbulkan dari peristiwa bencana alam yang baru saja terjadi, diperkirankan sampai puluhan miliar. Dalam beberapa teori kajian, bencana alam merupakan salah satu faktor yang bisa melumpuhkan ekonomi suatu daerah. Sebab, bencana alam biasanya datang berbarengan dengan dampak yang begitu luar biasa, misalnya lumpuh nya infrastruktur jalan, jembatan, matinya sumber penghasilan para petani.

Selain itu, pemadaman listrik juga menjadi momok bagi warga dalam setiap bencana alam. Sebab jika listrik padam, maka masyarakat akan kesulitan mengakses sumber penghidupan, terutama bisnis yang bergantung pada sektor industri rumahan.

Oleh karenanya, sangat penting bagi kita untuk menjaga kelestarian lingkungan, melalui penghijauan, menanam pohon secara bersama sama, (one person one tree).  Dalam teori bisnis, 3 hal yang harus selalu diperhatikan dalam menerapkan green business, yaitu bisnis yang ramah lingkungan yakni people, planet dan profit.

Ketiganya ini saling berhubungan dan berkesinambungan. Sebagai pemilik bisnis,  kita harus menerapkan green business, atau biasa disebut green entrpreneur. Sebagai pelaku usaha, memulainya tidak sulit. Misalnya, memisahkan sampah organik dan non organis, sampah plastik dan lain lain.

Selain itu, para pemilik bisnis ini harus menginisiasi penghijauan. Kita tidak boleh mengambil sama sekali keuntungan atau profit apapun di bumi ini, tanpa memperhatikan lingkungan sekitar. Sebab kita bernaung di dalam bumi, dan kita jugalah yang akan terdampak bila tidak memperhatikannya.

Termasuk misalnya melakukan penyadaran kemasyrakat untuk mengurangi penggunaaan sampah plastik. Oleh karenannya, saya berharap setiap perusahaan mengluarkan dana CSR-nya, dan harus banyak dipergunakan untuk melestarikan lingkungan.

Perlu penyadaran yang menyeluruh dari semua stake holder. Karena tanggung jawab lingkungan ini adalah tanggung jawab kita bersama, pemerintah, pihak kampus, pengusaha/pemilik bisnis, dan civil socety harus saling bekerjasama dan bahu membahu, demi menjaga kelangsungan planet ini.

 

Penulis: Basri Basir MR,SE.,M.Ak.,CBC – Ketua Inkubator Bisnis Unismuh Makassar, Inisiator Green Entrepreneur, dan dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis