HARGA RUMAH SUBSIDI DI SULSEL DIPREDIKSI NAIK 7 PERSEN

Salah satu perumahan di kota Makassar.

BISNISSULAWESI.COM, MAKASSAR —  Pemerintah merencanakan untuk menaikkan harga rumah bersubsidi tahun 2019. Saat ini, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahaan Rakyat (PUPR) tengah menggodok formula kenaikan harga rumah subsidi.

Pengembang mengusulkan kenaikan harga rumah subsidi rata-rata 10%. Angka tersebut lebih tinggi dari rata-rata kenaikan pada tahun- tahun sebelumnya, yang hanya mencapai 5%. Bahkan di tiga daerah yang memiliki harga lahan yang sudah sangat tinggi, kenaikannya diusulkan lebih tinggi lagi.

Ketua DPD Real Estate Indonesia (REI) Sulsel, M Shadiq mengatakan, usulan kenaikan harga rumah subsidi tahun ini lebih tinggi dari tahun-tahun sebelumnya. Pertimbangannya biaya akusisi lahan sudah semakin mahal, dan biaya material bangunan juga mulai naik, sejalan dengan penguatan dollar AS.

“Kalau untuk Sulsel sendiri, kami prediksi akan naik 7% atau sekitar Rp 146 juta. Karena kalau di lihat dari trend harga rumah subsidi, memang selalu mengalami kenaikan harga. Buktinya pada tahun 2017 harga rumah di Sulsel Rp 129 juta, kemudian naik Rp 136 juta di Tahun 2018,” ungkapnya.

Menurut Shadiq, masyarakat perlu pahami, setiap tahun target rumah subsidi semakin meningkat jumlah unitnya. Begitu juga dengan harga jual, dari tahun ke tahun meningkat, karena adanya kenaikan spesifikasi dan biaya lain, serta perhitungan inflasi.

“Tahun ini REI Sulsel, target membangun 25 ribu unit rumah. Lokasinya tersebar di seluruh kabupaten, terbarunya Gowa dan Maros. Ini salah satu bentuk dukungan program nasional sejuta rumah, yang telah di gaungkan sejak tahun 2015 lalu.” Tuturnya
Hal yang sama diutarakan Arif Mone, pemerhati properti Sulsel, mendukung dengan adanya kenaikan harga rumah subsidi. Menurutnya, usulan itu sudah tepat, karena lahan yang semakin terbatas, membuat biaya lahan semakin mahal. Sementara sisi lain, biaya kontruksi juga mulai mengalami kenaikan.

“Kenaikan sebesar itu saya rasa tidak akan mengganggu daya beli masyarakat. Biaya yang ditanggung pengembang juga bukan hanya biaya konstruksi dan lahan, tapi juga harus mengeluarkan biaya untuk infrastruktur penyaluran air, jalan, dan lain-lain. Sehingga kenaikan itu sangat penting,” ungkap mantan Ketua REI Sulsel ini.

Ditambahkan Arif, permasalahan yang ada di rumah subsidi saat ini adalah kekurangan suplai. Kekurangan hunian (backlog) saat ini mencapai 11 juta, dan ditambah pertumbuhan kebutuhan rumah 800.000 setiap tahun. Sehingga setiap tahun harus dibangun 3 juta rumah, untuk mengatasi backlog tersebut dalam lima tahun.
Oleh karena itu, pemerintah harus memperhatikan dari sisi pengembang juga, agar semakin banyak yang mau membangun rumah murah. Selain itu lanjutnya, perlu dibuat segmen baru untuk rumah murah subsidi, dikisaran harga Rp 165 juta – Rp 300 juta. Pasar untuk segmen harga tersebut sangat besar.

“Jika segmen itu dibuat, maka jumlah supplai akan terus bertambah, karena akan semakin banyak pengembang mau membangun rumah murah,” katanya. /Komang Ayu