DESTINASI WISMAN ANJLOK, DESTINASI SULSEL MONOTON

Wisatawan mancanegara, memotret tempat-tempat wisata di Toraja, Sulawesi Selatan.

BISNISSULAWESI.COM, MAKASSAR —  Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), setiap tahunnya jumlah kunjungan wisatawan di Sulawesi Selatan (Sulsel), baik domestik maupun mancanegara terus menurun. Hal ini menjadi pekerjaan rumah (PR) pemerintah provinsi Sulsel.

BPS mencatat, jumlah wisatawan mancanegara (Wisman) yang datang melalui pintu masuk Makassar, pada November 2018 sebesar 1.171 kunjungan. Jumlah itu turun 1,35 persen jika di bandingkan dengan jumlah pada Oktober 2018, yang mencapai 1.187 kunjungan. Sedangkan apabila dibandingkan dengan November 2017, maka terjadi penurunan sebesar 23,86 persen, yang mana jumlah pada waktu itu 1.538 kunjungan.

Malaysia, Singapura, Amerika Serikat, Jerman dan Tiongkok merupakan lima negara dengan jumlah wisman terbesar, yang berkunjung ke Indonesia melalui pintu masuk Makassar pada November 2018. Jumlah wisman dari lima negara tersebut yakni 1.036 kunjungan, atau sekitar 88,47 persen, dari total wisman yang masuk melalui pintu masuk Makassar.

Kepala BPS Sulsel, Yos Rusdiansyah mengatakan, secara kumulatif dari Januari hingga November 2018, terjadi penurunan kunjungan wisatawan ke Sulsel jika di bandingkan tahun 2017. Jumlah kunjungan wisman kumulatif Januari sampai November 2018 sebesar 12.709 orang, sedangkan jumlah kunjungan wisman kumulatif Januari-Desember sebesar 18.355 orang.

“Penyebab menurunnya kunjungan wisman ini disebabkan beberapa kegiatan nasional yang digelar pada tahun 2017, tidak diadakan pada tahun 2018,” ungkapnya.
Menurutnya, Sulsel memerlukan destinasi wisata baru untuk mendongkrak kunjungan wisatawan kedepan. Promosi untuk memperkenalkan destinasi wisata di Sulsel juga harus lebih digencarkan lagi ke negara-negara tetangga.

Sementara, pemerhati Pariwisata Sulsel, Bambang Herriyanto menuturkan, turunnya jumlah wisman diakibatkan kejenuhan para wisatawan, destinasi menoton, dan kurangnya varian objek, dan paket wisata yang ditawarkan daerah.
“Seharusnya Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) hingga asosiasi lebih efektif kerjanya, karena di tunjang teknologi informasi yang canggih, SDM yang lebih maju, dan komplit knowledge-nya,” katanya./Komang Ayu