MELIHAT PERKEMBANGAN WISATA KUALA LUMPUR

BISNISSULAWESI.COM, MAKASSAR — Dalam rangka melaksanakan program kerja direct promotion Dinas Pariwisata Provinsi Sulawei Selatan, pengurus Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia, yang juga dikenal dengan Association of the Indonesian Tours and Travel Agencies (ASITA) DPD Sulsel, mengunjungi Kuala Lumpur, Malaysia.

Menurut Humas DPD ASITA Sulsel, Andi Nilawati, ada beberapa agenda kegiatan yang digelar selama tiga hari, 18 – 20 Desember 2018. Yakni, sharing pertukaran budaya, memperkenalkan destinasi baru yang ada di Sulsel, gathering dan table top, serta presentasi dari Dinas Pariwisata, ASITA dan PHRI.

“Respon dari travel agent Malaysia terhadap apa yang kami sangat luar biasa. Mereka menyambut kedatangan kita dengan baik. Kita juga melakukan kunjungan ke Dubes Malaysia,” ujarnya.

Disela-sela kesibukannya menjalankan program kerja dari ASITA Sulsel, Andi Nila bersama rombongan juga menyempatkan jalan-jalan ke beberapa destinasi wisata yang ada di Kuala Lumpur. Tujuannya agar dapat menjadi bahan pembelajaran, utntuk memajukan industri pariwisata Sulsel.

Salah satu yang cukup menarik perhatian yakni Dataran Merdeka, Kuala Lumpur. Tempat ini sangat tepat bagi yang ingin menikmati wisata sejarah, khususnya bangunan-bangunan tua.

“Dataran Merdeka sudah terkenal di kalangan pelancong, dan menjadi tujuan utama ke Kuala Lumpur. Terbukti saat ke sana, banyak turis dari berbagai ras yang sibuk lengak-lengok sambil bawa. Selain karena lokasinya yang mudah di jangkau, melihat areal ini tidak di pungut biaya,” ungkap Andi Nila.

Bagi muslim, tempat yang menjadi destinasi kunjungan wajib di Kuala Lumpur adalah Masjid Jamek. Bangunan ibadah umat Islam ini didirikan tahun 1909, terletak di antara Sungai Klang dan Sungai Gombak, dan bergaya arsitektur Moorish. Ini merupakan mesjid tertua di Kuala Lumpur.

Sebelum Masjid National dibagun pada tahun 1965, masjid ini digunakan sebagai masjid utama. Mesjid ini memiliki 3 menara utama. Bangunan masjid ini masih merupakan bangunan asli, sama seperti pertama kali didirikan.

“Untuk bisa masuk ke daerah di dalam pagar, harus mengenakan pakaian sopan dan menutupi aurat,” ungkap Andi Nila.

Saat itu, Andi Nila masuk ke dalam Sultan Abdul Samad Building, yang dibangun tahun 1897. Gedung ini merupakan bangunan terbesar pada masanya. Konstruksinya dimulai pada tahun 1894, dan selesai pada tahun 1897.

Awalnya dibagun sebagai Kantor Pemerintahan Baru, kantor Departemen Pekerjaan Umum, kantor survey, Bendahara, Kantor Pos dan Telegraf, dan beberapa departemen Pemerintah Federal Malaysia. Di bagian tengah gedung, terdapat jam yang pertama kali berbunyi pada saat parade perayaan ulang tahun Ratu Victoria di tahun 1897. / Nur Rachmat