Bisnis Berbasis Digital Menjadi Peluang Pertumbuhan Ekonomi

N. Tri Suswanto Saptadi

BISNISSULAWESI.COM, MAKASSAR — Perkembangan Teknologi Informasi (TI) di era disrupsi seperti saat ini, telah mampu beradaptasi sangat pesat di tengah kehidupan masyarakat. Di mana, TI juga memiliki peran efektif dalam perkembangan kehidupan dan peradaban aktifitas manusia, menjadi lebih efisien dan cenderung pragmatis.

Teknologi hadir dengan beberapa peluang usaha di bidang TI, yang mungkin sangat menjanjikan bagi pertumbuhan ekonomi, khususnya di Tahun Baru 2019. Go-Jek, Traveloka, Tokopedia dan Bukalapak, merupakan 4 perusahaan start-up Indonesia, yang telah memperoleh penghasilan cukup signifikan bagi perkembangan bisnis.

Kekayaan yang dimiliki, kini telah menembus daftar 150 orang terkaya Indonesia versi Globe Asia, dengan menyerap tenaga kerja serta mengembangkan usaha kecil dan menengah.

Bisnis digital sebenarnya telah cukup lama mulai berkembang di Indonesia. Salah satu contoh yang cukup berkembang di dunia saat itu adalah Kaskus pada tahun 1999,  dan kemudian mulai masuk di Indonesia sekitar tahun 2008.

Seperti Kaskus yang bermula dari semacam forum di Internet, kini telah menjadi wadah dan sarana efektif bagi para pedagang, untuk mencoba menjajakan barang dagangan dan berbagai informasi yang menarik bagi para konsumen.

Mengapa masyarakat tertarik pada bisnis berbasis digital? karena membutuhkan modal bisnis yang relatif rendah, sarana promosi yang mudah dan fleksibel (tanpa batas waktu), produk mudah dikenal oleh masyarakat umum, tidak bergantung pada situasi atau cuaca, resiko bisnis tidak terlalu besar, pangsa pasar luas, potensi menghasilkan keuangan yang relatif besar, pengguna internet cukup besar, biaya operasional relatif kecil, dan dapat menciptakan lapangan kerja baru.

Kini seiring berjalannya waktu, peluang usaha bisnis berbasis digital telah mulai berjalan cukup baik, seperti IT solution, web development, search engine optimization (menaikkan pencarian), start-up (merintis usaha baru), jasa digital (desain grafis, penulis artikel), aplikasi mobile, software engineering, blogger, hingga social media consulting.

Dalam hubungan dengan peluang bisnis, maka terdapat bisnis e-commerce, yaitu jasa pembuatan aplikasi penjualan, berupa toko online yang mampu menjangkau konsumen lebih luas. Selain itu, peluang mendirikan marketplace dengan cara menampung banyak penjual dalam satu wadah.

Salah satu yang masih relevan hingga saat ini adalah start-up yang berhubungan dengan transportasi Go-jek, Grab, dan lain sebagainya. Bisnis di bidang financial juga cukup berkembang seperti Financial Technology (Fintech).

Untuk mendukung pengelolaan terhadap aktivitas bisnis, diperlukan berbagai aplikasi pendukung seperti Camcard – Business Card Reader (pemindai kartu nama), Linkedln (media sosial untuk mendapatkan lebih banyak jaringan), Microsoft Office (aplikasi berbayar seperti word, excel, power point), My Budget Book (mengelola keuangan), Evernote (menuangkan ide kreatif dan menyimpan berbagai macam artikel), RescueTime (mengetahui produktivitas), Mobile Banking (kebutuhan transaksi), Expensify (pencatatan pemasukan dan pengeluaran), Wave (memantau pendapatan dan berbagai tagihan), Spark (mengelola akun email yang kompatibel dengan evernote, dropbox, dan Google Drive), serta Hootsuite (mengelola akun bisnis).

Meskipun perkembangan TI cukup pesat, namun terdapat kekurangan yang perlu diperhatikan, seperti Impersonal, tidak mencoba sebelum membeli, kompetisi, produktifitas, kredibilitas, pelayanan pelanggan, pasar jenuh, kurangnya interaksi, konektivitas internet. Sementara kelebihannya yaitu mengurangi biaya, mengurangi persyaratan staf, rentang yang lebih lebar, menghubungkan dengan cepat, informasi, dan penjualan.

Tantangan dalam meraih peluang bisnis berbasis digital adalah lambatnya pergeseran budaya data dari konvensional menuju digital, karena pertumbuhan tersebut memakan biaya, kebutuhan infrastruktur yang relatif rumit, keterampilan digital para pekerjanya yang masih kurang, distribusi data dalam tim berkurang atau berubah serta kurang aman bagi kelangsungan bisnis.

Penulis: Tri Suswanto Saptadi – Dosen Informatika, Ekonomi dan Bisnis Universitas Atma Jaya Makassar