2019, KENAIKAN SUKU BUNGA THE FED DIPREDIKSI BERLANJUT

Karyawan Bank BRI KC Makassar, Menghitung mata uang asing. / Foto: Masyudi Firmansyah

BISNISSULAWESI.COM, MAKASSAR — Kenaikan suku bunga acuan AS Fed Fund Rate kemungkinan besar masih akan berlanjut tahun 2019. Hal ini akan membuat Bank Indonesia (BI) juga menaikkan suku bunga acuan BI 7-day Reverse Repo Rate (7DRRR).

Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Makassar, Muammar Muhayang mengakui, kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (7 Days Reverse Repo Rate/7DRRR) akan menambah beban biaya perusahaan.

Diperkirakan biaya yang harus dikeluarkan perusahaan untuk ekspansi akan meningkat, karena beban bunga kredit berpotensi naik setelah suku bunga acuan dinaikkan.

“Iya jelas akan memberikan dampak bagi dunia usaha. Paling utama penjualan pasti melambat, karena mau tidak mau masyarakat akan menunda pembelanjaan, karena suku bunga kredit naik. Ekspansi usaha tidak bisa dijalankan kalau suku bunga kredit naik, dan memberatkan pembayaran pinjaman,” jelasnya.

Diprediksi Muammar, triwulan pertama 2019 atau tahun politik relatif stagnan. Tapi usaha hotel dan restoran akan mengalami peningkatan minimal 10 persen, karena baru kali ini pilpres dan pileg digelar bersamaan. “Setelah Pemilu, apabila lancar dan damai, akan ada pergerakan investasi menyambut hasil pemilu,” ujarnya.

Ia berharap, pemerintah dan pihak perbankan tidak menaikkan suku bunga yang bisa membebani pertumbuhan dunia usaha. Selain itu, pilpres dan pileg dapat berjalan lancar dan damai, sehingga dunia usaha tetap bisa tumbuh berkembang, bahkan lebih baik daripada tahun 2018.

“Apabila pemilu lancar, sukses dan damai, investasi bisa masuk, serta suku bunga bisa dipertimbangkan tetap dipertahankan, agar momentum pertumbuhan ekonomi bisa berlanjut, seiring dengan belanja dan berjalannya proyek-proyek pemerintah,” tuturnya.

Sementara, Kepala OJK KR 6 Sulampua, Zulmi menyebutkan, penyesuaian suku bunga acuan bukan satu-satunya faktor yang menentukan suku bunga akan dinaikkan. Likuiditas pasar juga sangat menentukan. Jikalau likuiditas dipasar masih cukup, tentunya pertimbangan untuk menaikkan suku bunga, bukan menjadi hal yang utama.

Berdasarkan data yang dikumpulkan, meski ada yang mempertimbangkan untuk menaikkan suku bunga, itu tidak serta merta mengikuti suku bunga acuan. Untuk menaikkan suku bunga, katanya, tergantung pada kantor pusat masing-masing perbankan. Seperti contoh Bank BCA, yang menghitung secara keseluruhan, kira-kira kalau menaikkan suku bunga itu berapa, berarti daerah juga melaksanakan.

Menaikkan suku bunga bisa berdampak pada para nasabah. Semisal perbankan menargetkan pertumbuhan kreditnya 12%, tapi dengan menaikkan suku bunga acuan, itu akan mempengaruhi pencapaian target kredit yang mereka tentukan.

“Makanya hitung-hitungannya lengkap, banyak faktor yang mereka harus hitung. Dengan menaikkan suku bunga dampak-dampak lainnya seperti apa. Jadi hitungannya tidak hanya satu faktor,” tegasnya. / Komang Ayu