PESONA EKOWISATA MANGGROVE YANG SEJUK

BISNISSULAWESI.COM, MAKASSAR — Warga pesisir di Kampung Lantebung, Kelurahan Bira, Kecamatan Tamalanrea, Makassar kini bisa bernapas lega. Mereka tidak lagi terancam amuk angin barat dari arah laut saat tiba musim hujan, karena sudah terlindungi hutan mangrove.

Selain itu, penampilan kawasan hutan mangrove yang berada di sisi utara Kota Makassar itu, juga jauh lebih indah dari sebelumnya. Itu karena sudah dibangun jembatan setapak dari kayu, diantara tanaman mangrove yang dicat warna warni.

Jembatan itu juga berfungsi sebagai dermaga, tempat perahu-perahu nelayan ditambatkan. Panjangnya 270 meter dari bibir pantai menuju laut. Sementara tanaman bakau baru memenuhi lahan dari bibir pantai ke arah lautan sejauh 150-170 meter. Jembatan setapak dari kayu ini dilengkapi dua pondokan kecil, berfungsi sebagai tempat istirahat. Satu di antara pondokan ini juga berfungsi sebagai pusat informasi.

“Dulu saat tiba musim hujan, angin barat juga bertiup kencang sekali, membuat ombak tinggi dan pasang, hingga masuk ke permukiman warga. Air laut merendam rumah warga sampai satu meter tingginya. Belum lagi tiupan angin itu juga mengancam rumah-rumah warga yang dulu rata-rata rumah panggung. Tapi sekarang sudah aman, karena air laut dan angin tertahan hutan mangrove,” kata Saraba (54) tokoh masyarakat setempat.

Belasan tahun silam, tuturnya, hutan magrove di kampungnya itu hanya seluas 15 x 997 meter persegi. Itu terjadi karena dibabat sendiri oleh warga. Mereka menebang pohon-pohon mangrove atau bakau, untuk dijual atau sekadar jadi kayu bakar.

Alhasil serangan angin barat setiap tahun mengancam, bahkan pendapatan jadi menurun, karena kepiting rajungan yang juga menjadi sumber penghasilan ikut menurun, lantaran mangrove yang jadi kandang mereka punah.

“Dari pondok informasi ke sebelah selatan, dulu itu mangrove-nya benar-benar punah. Akhirnya kita upayakan supaya kawasan mangrove dihijaukan kembali. Perlahan-lahan kesadaran warga mulai tumbuh, tidak lagi menebang kemudian melakukan penanaman kembali sejak tahun 2006 lalu. Kini luasan mangrove sudah capai 12 hektare, dan kepiting-kepiting pun kembali berkembang dengan baik,” ungkap Saraba.

Tahun 2016, tambah Saraba, warga mendapat bantuan dari lembaga internasional, untuk membangun dermaga atau jembatan setapak dari kayu. Warga juga diberi bantuan alat tangkap kepiting dan udang. Disusul Dinas Kelautan Perikanan Pertanian dan Peternakan (DKP3) Makassar lakukan intervensi berupa kegiatan-kegiatan pembinaan.

Dulu warga nelayan hanya satu kali keluar melaut, karena perahu-perahu sulit sekali ditarik ke laut. Setelah adanya dermaga ini, warga tidak lagi kesulitan menarik perahunya, jadi kini mereka melaut sampai dua kali. Di samping itu, juga cari kepiting di pinggiran hutan mangrove.

Bukan hanya kelompok nelayan terbentuk di kampung ini, kelompok ibu-ibu juga berhasil diberdayakan. Mereka terorganisir di dua kelompok pengolah kepiting rajungan. Mereka kini sudah mahir memproduksi keripik kepiting, kacang kepiting crispy, kepiting kambu, bahkan keripik ikan bandeng.

Sejak proyek dari lembaga internasional selesai tahun 2017, kini warga berusaha mandiri, cari dana untuk biaya pemeliharaan kawasan hutan mangrove, beserta fasilitas yang ada.

Makanya di gerbang masuk, setiap pengunjung beli karcis masuk sebesar Rp 2 ribu per orang. Kemudian sewa kapal untuk mengelilingi hutan dikenakan tarik Rp 30 ribu per trip maksimal 4 orang. Untuk sewa pondok atau gazebo, dapat  digunakan untuk rapat atau semacamnya sebesar Rp 150 ribu. Disediakan juga fasilitas satu kali makan, menu serba kepiting Rp 500 ribu untuk 10 orang. / Komang Ayu