ARCHIPELAGO INTERNATIONAL TELUSURI BANGUNAN BERSEJARAH KOTA MAKASSAR

BISNISSULAWESI.COM, MAKASSAR — Sebagai wujud komitmennya mendukung kemajuan industri pariwisata kota Makassar, Archipelago International mengajak sejumlah media mengunjungi beberapa destinasi wisata bangunan bersejarah, yang ada di kota anging mammiri.

Mengangkat tema Makassar Heritage Tour, National Brand Manager Archipelago International, Niko Wicaksana mengatakan, kegiatan ini sengaja mengunjungi beberapa tempat bersejarah, karena Makassar diketahui masih mempertahankan jejak sejarah masa lampau, dan menjadikannya sebagai salah satu destinasi wisata unggulan.

Acara sejenis ini tambahnya, juga sudah pernah dilaksanakan Archipelago International di beberapa kota lain di Indonesia. Di Makassar, Archipelago International mengelola empat properti hotel, Aston Hotel & Convention Makassar, Harper Perintis Makassar, Fave Hotel Panakukang, dan Fave Hotel Losari.

Kegiatan yang dilaksanakan juga dalam rangka ulang tahun Kota Makassar yang ke-411 ini, mengunjungi tiga bangunan bersejarah, Benteng Rotterdam, Klenteng Xiang Ma, China Town, dan Museum Kota Makassar.

Mengambil start di Aston Hotel & Convention Makassar, peserta diajak ke Benteng Rotterdam sebagai destinasi awal yang dikunjungi. Benteng peninggalan Kerajaan Gowa – Tallo ini, terletak persis di Jalan Penghibur.     Bangunan yang juga disebut Benteng Jumpandang, atau dikenal sebagai Benteng Pannyua’ itu dibangun tahun 1545, oleh Raja Gowa ke-9, I Manrigau Daeng Bonto Karaeng Lakiung Tumapa ’risi’ Kallonna.

Dalam catatan sejarah, benteng ini pernah hancur akibat penyerbuan Belanda ke Kerajaan Gowa, karena ingin menguasai jalur perdagangan rempah-rempah. Setelah dikuasai, Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Cornelis Janzoon Speelman kemudian mengubah namanya menjadi Fort Rotterdam, untuk mengenang daerah kelahirannya di Belanda.

Bangunan bersejarah selanjutnya yang dikunjungi yakni Klenteng Xian Ma. Klenteng yang berjuluk Istana Naga Sakti ini, merupakan salah satu klenteng tertua di Kota Makassar, terletak di Jalan Sulawesi.

Memasuki ruangan Klenteng Xian Ma, pengunjung disambut oleh patung Dewa Maitreya. Bangunan ini begitu kental dengan arsitektur khas Tionghoa, yang didominasi warna merah dan emas. Hal hal menarik dari klenteng Xian Ma yaitu dari segi peninggalan sejarah dan budayanya. Dewanya paling lengkap, jumlahnya sekitar 15 dewa, diantaranya Dewa anak, Dewa Jodoh, Dewa Peminta Reski, Dewa Menjauhkan Bencana, dan Lain-lain.

Sebelum melanjutkan perjalanan ke Museum Kota Makassar, peserta Makassar Heritage Tour diajak menelusuri China Town, dan mampir di Kedai Air Tahu 43 untuk beristirahat. Tempat ini sangat legendaris, sudah ada di tengah-tengah masyarakat Makassar sejak tahun 1954. Kedai ini dinamakan demikian karena berada di Jalan Lombok no 43.

“Air tahunya dari kedelai asli, tidak terlalu manis, aroma kedelainya terasa dan sangat menyegarkan. Tak ada bahan pengawet yang digunakan, jadi air tahu ini hanya akan bertahan 4-5 jam. Di tempat ini juga kita bisa mencicipi bakpao dan gorengan,” jelas Azzahrah dari tim Telusur Kota, yang menjadi guide acara.

Bangunan bersejarah terakhir yang dikunjungi yaitu Museum Kota Makassar. Saat masuk di pelatarannya, sebuah meriam berusia kurang lebih 500 tahun menyambut kedatangan tamu.

Terdapat koleksi foto-foto perkembangan Kota Makassar. Mulai dari lukisan klasik, mata uang yang pernah digunakan di Makassar, benda-benda arkeolog, koleksi baju adat Makassar, dan foto-foto Wali Kota Makassar dari masa ke masa. / Nur Rachmat