BPS: PRODUKSI PADI SULSEL 5,13 JUTA TON

Petani sedang memanen padi di Galesong, Kabupaten Takalar.

BISNISSULAWESI.COM, MAKASSAR —   Badan Pusat Statistik mencatat produksi padi di ­Sulawesi ­Selatan selama sembilan bulan, atau periode Januari-­September 2018 mencapai 5,13 juta ton gabah kering giling (GKG).

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Selatan Yos Rusdiansyah mengatakan, produksi tertinggi terjadi pada September yaitu sebesar 1,09 juta ton. “Untuk produksi gabah kering giling yang dihasilkan petani Sulsel cukup besar, dan selama sembilan bulan ini sudah 5,13 juta ton. Produksi tertinggi pada bulan September sekitar 1.09 juta ton,” ujarnya.

Ditambahkan, produksi padi terendah terjadi pada Juni 2018, yang hanya mampu menghasilkan 0,15 juta ton. Selain Juni 2018, produksi dari Januari hingga Agustus berkisar 0,41 hingga 0,86 juta ton.
Sementara untuk tiga bulan tersisa, BPS memprediksi produksi padi pada Oktober, November dan Desember 2018, masing-masing sebesar 0,25 juta ton, 0,21 juta ton, dan 0,15 juta ton. Kalau berdasarkan hitungan itu, maka jumlah perkiraan produksi secara keseluruhan dari Januari-Desember 2018 sebanyak 5,74 juta ton.

Yos juga menyatakan, produksi 5,74 juta ton padi dihasilkan dari 1,02 juta hektare lahan. Luas lahan panen padi tersebut hanya terhitung dari Januari-September 2018.
Sedangkan luas panen tertinggi terjadi pada September, sebesar 0,21 juta hektare, dan luas panen terendah terjadi pada Juni sebesar 0,03 juta hektare. Luas panen padi pada September 2018 sebesar 0,21 juta hektare, mengalami peningkatan sebesar 24,41 persen, dibandingkan luas panen pada Agustus 2018.
Selain menghitung luas panen pada saat pengamatan berdasarkan fase tumbuh tanaman padi, survei KSA juga dapat menghitung potensi luas panen hingga tiga bulan ke depan.
Berdasarkan hasil survei KSA pengamatan September, potensi luas panen pada Oktober, November, dan Desember masing-masing sebesar 0,05 juta hektare, 0,04 juta hektare, dan 0,03 juta hektare.

“Dengan demikian, total luas panen 2018 adalah sebesar 1,14 juta hektare, jika digabungkan dengan tiga bulan terakhir yakni Oktober, November dan Desember,” tambah Yos.
Ketidakakuratan data produksi padi juga telah diduga oleh banyak pihak sejak 1997. Studi yang dilakukan oleh BPS bersama Japan International Cooperation Agency (JICA) pada 1998 telah mengisyaratkan kelebihan (over) estimasi luas panen sekitar 17,07 persen.
Begitu pula dengan perhitungan luas lahan baku sawah yang cenderung meningkat. Walaupun fakta di lapangan menunjukkan terjadinya pengalihan fungsi lahan untuk industri, perumahan atau infrastruktur, meskipun di sisi lain juga ada proses pencetakan sawah baru./Komang Ayu