PRIA INI SULAP BIAWAK JADI BISNIS MENGUNTUNGKAN

24
Dina Mahardika, pemilik Galeri Wong Sinting, Sedang mengerjakan tas yang terbuat dari kulit Biawak.

BISNISSULAWESI.COM, MAKASSAR —  Menjalani bisnis di bidang kuliner atau jasa itu sudah biasa. Tetapi bagaimana bila mengolah kulit biawak menjadi produk bernilai ekonomis? Itu pasti luar biasa.

Faktanya, fenomena ini dilakukan Dina Mahardikha, pengusaha asal Sulawesi mengolah kulit biawak menjadi produk fashion. Meskipun ada yang menilai mengerikan, tetapi karya yang dihasilkan patut diapresiasi.

Dika, panggilan akrabnya, membutuhkan modal sedikitnya Rp 500 ribu, saat pertama kali merintis bisnis tersebut. Modal itu digunakan untuk memberi upah kepada penangkap biawak. Usahanya dimulai sejak 2010, diberi nama Galeri Wong Sinting.
“Seluruh bagian dari tubuh biawak bisa digunakan untuk barang fashion. Mulai dari kepala, ekor, bagian punggung, serta perut. Motifnya yang unik, menjadikan kulit biawak lebih unggul dibandingkan kulit binatang lain, seperti sapi, kerbau atau ular. Jadi awalnya itu saya hanya membeli 2 sampai 3 ekor biawak, yang saya kreasikan menjadi gantungan kunci,” ungkapnya.

Perlahan-lahan bisnisnya tersebut mulai berkembang. Dan saat ini tak hanya gantungan kunci, juga ada peci, ikat pinggang, tas dan dompet, yang juga diproduksi. “Alhamdulliah bisnis ini sudah mulai berkembang, per-minggu saya bisa produksi aksesoris ratusan, dari 15 ekor biawak,” ujar Dhika
Selama menjalani bisnis ini, Dhika mengaku kendala utama yang dihadapi, lebih pada bahan baku utamanya biawak. Karena ketika ada pemesanan yang banyak, stok biawak malah sedikit.
“kendalanya dari stok biawak yang kadang tidak menentu. Maka dari itu, saya menyiasati dengan terus melakukan produksi, sehingga kalau ada pemesanan stok barangnya sudah ada,” tambahnya.

Dalam sebulan, Dhika mampu mengantongi omzet minimal Rp 5 juta. Namun margin keuntungan dari setiap harga jual, diakui tidak terlalu besar hanya sekitar 20 persen, karena dia memang mengejar kuantitas penjualan.
Dituturkan Dhika, ia sering mengikuti beberapa pameran yang diselenggarakan pemerintah. Itu guna memperkenalkan hasil karya yang dibuat dari hewan reptil tersebut.
“Beberapa metode penjualan saya lakukan. Mulai dari jualan keliling, jualan di toko, hingga mengikuti pameran-pameran besar. Hal itu untuk mempromosikan hasil karya yang saya buat dari hewan biawak ini. Karena tidak banyak memanfaatkan hewan biawak untuk produk fashion. Sebagian besar hanya menggunakan ular dan buaya,”tutupnya. /Komang Ayu