SUKSES LANJUTKAN USAHA WARISAN KELUARGA

19

BISNISSULAWESI.COM, MAKASSAR —   Di Makassar, ikan bisa dijadikan bahan baku masakan apa pun, tidak terkecuali sup. Apalagi sup ikan khas Kota Anging Mammiri, 6memiliki karakteristik berbeda dengan makanan sejenis yang berasal dari daerah lain di Indonesia. Kekhasan itu berasal dari bumbu rempah yang digunakan bernama kaloa.

Tidak sulit mendapatkan menu sup ikan ini di Kota Makassar. Hampir di tiap ruas jalan dapat ditemukan warung makan yang menjajakannya. Salah satunya terdapat di Jalan Tentara Pelajar, di Rumah Makan Pallu Kaloa.
Peracik pertamanya bernama H Wasid asal Kabupaten Pangkep. Dulu ia berjualan pallu

kaloa menggunakan gerobak di Jalan Lombok, Makassar. Menu ini rupanya berhasil menarik perhatian banyak penikmat kuliner, sehingga pada 2005 ia memutuskan mengembangkan usahanya, membuka warung makan di Pasar Sentral.
Lantaran Pasar Sentral sempat mengalami dua kali peristiwa kebakaran, H Wasid memindahkan warung makannya di Jalan Tentara Pelajar pada 2008. Warung yang awalnya hanya berukuran 4X6 meter, berkembang menjadi 8X6 meter. Kini Rumah Makan Pallu Kaloa dikelola cucu dari H Wasid, bernama Irmawati.

“Resep yang kami pakai sudah turun-temurun diwariskan dari kakek, makanya tidak akan sama dengan tempat lain. Apalagi ikan yang dipakai benar-benar dipilih, seperti kerapu, lamuru, katamba, kaneke, dan tuna, yang hanya dipakai kepalanya. Sementara yang ingin mencicipi dagingnya, dipilihkan ikan tuna dan lamuru,” ungkap ibu berhijab tersebut.
Untuk seporsi makanan, pecinta kuliner hanya perlu merogoh kocek Rp 28.000, sudah bisa mencicipi sup kepala ikan ala Rumah Makan Pallu Kaloa. Menurut Irma, dalam sehari ia menyiapkan kuah pallu kaloa sebanyak 15 liter, dan kepala ikan 100 kg. Itu untuk pesanan 100 porsi dari pengunjung. Rumah makan ini bukan mulai pukul 08.30 sampai 22.00 Wita.
Untuk menjaga usaha dari turun temurun itu, beberapa strategi disiapkan Irmawati. Yang utama tentunya menjaga kualitas rasa dari menu yang dijual. Selain itu, juga menjaga hubungan baik dengan konsumen.
“Rata-rata yang makan di tempat kami termasuk pelanggan loyal. Kalau omzet, masih tergantung pasar, tidak menentu. Kadang ramai, kadang sepi juga, tapi tetap harus di syukuri,” tutur Irmawati. /Komang Ayu