Pi­xel Art Profesi Prospektif yang masih Jarang Ditekuni

73

BISNISSULAWESI.COM, MAKASSAR —  Pixel Art, seni membuat gambar atau bentuk ­menggunakan titik-titik pixel. Pixel art bisa dibilang grapic style yang ­pertama dipakai jaman dulu buat perangkat digital seperti komputer 8 bit, kalkulator, konsol game dan perangkat lain yang masih memiliki sistem terbatas. Pixel art sangat prospektif. Sayang, belum banyak anak muda yang menekuninya secara serius.

Di jaman modern seperti saat ini, yang mana animasinya sudah sebagian besar 3D dan animator sudah profesional, Pixel Art memang tergolong sudah termakan usia.
“Itu memang salah satu tantangan dan kendala menekuni Pixel Art di jaman modern seperti sekarang. Tetapi bagaimana caranya animasi ini (Pixel Art) bisa disukai orang dengan mengemasnya secara unik, modern dan absurd,” ungkap Nursalim A.K.A. Salim Cheeks, salah satu pelaku seni Pixel Art kepada Bisnis Sulawesi via Whatsapp, Rabu (24/10).
Salim, begitu laki-laki kelahiran ­Bekasi, 13 Juni 1992 biasa disapa, men­ceritakan, pertama kali mencoba Pixel Art pada 2015. Karya pertamanya berupa art work gambar untuk diikutsertakan dalam sebuah lomba, #beranimenggambar.

‘’Alhamdulillah saya menang 10 besar. Saya terus mendalami Pixel Art, ikut lagi lomba dan akhirnya karya saya terpilih jadi juara utama. Itu awal saya memilih Pixel Art untuk berkarya. Kemudian sejak awal 2017, saya mulai membuat Animasi Pixel sampai sekarang,” katanya.
Salim mengaku pertama kali kena­l Pixel Art melalui Google. Setamat SMK di Bekasi, ia mencari jati diri untuk fokus di bidang apa. Sempat mencoba desain ­grafis membuat vector. Namun belum menemukan kecocokan. Ia lantas ber-­explore di Google hingga menemukan ­sesuatu yang dianggap unik dari Pixel/­8bit. Membuatnya bernostalgia ke era game retro yang ada di Nintendo seperti mario bros, tetris, megaman dan lainnya.

Yang pertama kali menggunakan jasanya adalah grup musik Weird Genius yang personelnya terdiri dari Eka Gustiwana, Reza “Arap” Oktovian, Billy Taner untuk membuat project berupa video clip official dengan lagu berjudul Big Bang. “Video klip ada di youtube,” ujar Salim seraya menyebutkan, setelah sukses project pertamanya bersama Weird Genius, berlanjut semakin banyak perusahaan datang menggunakan jasanya. Sebut saja A Mild Soundsations, Tokopedia, Elevenia, Adonit, Kwikku, Cepatswipe, ACT (aksi cepat tanggap).
Lulusan SMK Jurusan Teknik Listrik ini mematok nominal kurang lebih Rp 5 juta untuk animasi berdurasi 1 menit dengan waktu pengerjaan sekitar satu minggu. Makin banyaknya pesanan, omset penyuka game mario bros dan game retro sejenisnya, meningkat. Antara Rp 7 juta hingga Rp 20 juta per bulan.

“Angkanya tidak tentu. Tergantung dari pemesanan,” katanya.
Saat ini, Salim masih mengerjakan sendiri pesanan yang datang kepadanya, selain membuat karya lepasan yang di update di akun media sosial miliknya. Karenanya, tidak jarang dia tak bisa mengupdate karya terbaru karena bentrok dengan kegiatan lain. Duka lain juga ada, di saat asik buat karya, tiba-tiba PC error dan lainnya.
“Tetapi intinya, menekuni Pixel Art lebih banyak sukanya. Bisa bikin orang tertawa setiap update karya baru, walaupun ceritanya absurd, garing dan banyak yang gagal paham,” katanya.

Untuk menumbuhkan minat anak muda Indonesia, Salim sering membuka workshop Pixel Art dan Animasi, namun masih terbatas di wilayah Jabodetabek. Ia berharap semakin banyak pelaku seni Pixel Art bermunculan. Karena Pixel Art dinilai unik dan aesthetic sehingga tingkat kepopulerannya masih terjaga walau sudah termakan usia. Saat ini, belum banyak anak muda Indonesia yang menekuninya, padahal tidak butuh modal besar. Hanya computer atau laptop.
“Yang pen­ting mulai dulu, niat dan keinginan yang tinggi dan bersabar. Terus lahirkan karya, sering-sering ber explore dan tetap konsisten, walaupun banyak yang tidak suka. Karya itu bukan untuk dikomentari, tapi untuk dinikmati,” sarannya.
Untuk dirinya pribadi, ke depan Salim memiliki rencana besar yakni membuat game buatan sendiri./Bali Putra