MAHASISWA UNHAS CIPTAKAN APLIKASI PENDETEKSI BATUAN DAN MINERAL BUMI

19
Mahasiswa angkatan 2016 ini berharap bisa menjadi delegasi Unhas, untuk mempresentasikan karya timnya ke tingkat nasional. / Foto: istimewa

BISNISSULAWESI.COM, MAKASSAR — Jumlah batuan dan mineral di bumi tidak terhitung banyaknya, para ilmuwan bahkan sulit mengidentifikasi. Menurut Pittsburg Section, ada lebih dari 3.500 mineral dan 377 batuan telah diidentifikasi.

Tetapi hasil kajian tersebut oleh pelajar dan mahasiswa masih mengalami kelemahan, untuk menentukan objek batuan dan mineral apa ini? Itu akibat metode yang rumit dan susah. Bahkan referensi belum cukup, dan terkadang tidak dijelaskan secara detail, sehingga sangat tidak efisien waktu.

Hal itu mendorong Muhammad Akbar, dari Departemen Teknik Pertambangan Unhas, melakukan sebuah riset cara mendeteksi batuan dan mineral lebih cepat. Riset ini diikutkan dalam Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) tahun 2018.

Berjudul “Mineral & Rock Recognition System (MIROR-APP) Application Penggelolahan Image Processing Using Camera Smartphone Deteksi Mineral dan Batuan as Digital Geology Reference for Smart, Modern, and Innovative Learning Method” sebagai solusi mendekteksi batuan dan mineral.

Alhasil, Muhammad Akbar bersama dua anggota timnya berhasil didanai Dikti,  dan telah mengikut Monitoring dan Evaluasi Eksternal PKM pada bulan Juli lalu. Adapun dua anggota lainnya yakni Kevin Chandra dari Departemen Teknik Informatika (2016) dan Muhammad Anwar Sadad (2015) dari Departemen Ilmu Komputer. Mereka kemudian didampingi Dr Eng Purwanto S T M T.

Tim MIROR-APP memanfaatkan perkembangan dan kelebihan teknologi komputer, seperti pengelolaan citra digital, yang berfungsi mengidentifikasi objek dalam bidang geologi dan pertambangan, guna mendeteksi mineral dan batuan.

Adapun cara penggunaannya, terlebih dahulu harus mendownload aplikasinya. Selanjutnya, mengambil gambar batuan dan mineral menggunakan kamera smartphone spesifikasi 8 megapixel. “Artinya objek didekatkan pada sensor kamera, untuk mendeteksi lalu di salin ke PC,” kata Akbar, sapaan akrabnya.

Langkah selanjutnya membuka aplikasi MIROR. Pada tampilan aplikasi, terdapat fitur choose image. Kemudian klik dan pilih gambar hasil potret sebelumnya, lalu klik predict pada aplikasi. Tunggu beberapa saat, dan aplikasi akan menampilkan data-data batuan dan mineral yang telah di input sebelumnya. Hasil data yang ditampilkan berupa sifat fisik, kimia, proses pembentukan, dan manfaat batuan serta mineral.

Proses penyiapan aplikasi ini melalui beberapa tahapan persiapan. Dari proses pengerjaan 10 April, sampai pengumpulan gambar batuan. Setiap batuan membutuhkan 200 hingga 1000 gambar. Misalnya, hendak mendeteksi 30 batuan  dengan standar 500 gambar tiap batu, maka setidaknya 15.000 sampel gambar disiapkan. Selain itu, batuan dan mineral harus terlebih dahulu dipilih, untuk menjadi data sampel. Saat ini, MIROR-APP baru bisa mendeteksi 30 sampel, yakni 15 batuan dan 15 mineral.

“Kendalanya kami harus cari 200-1000 gambar setiap batuan, dan harus kami filter satu per satu mana yang pantas untuk menjadi data sampel,” ujar Akbar.

Penggunaan aplikasi ini masih dalam lingkup mahasiswa, pelajar, dan tenaga pendidik, sebagai media dan bahan ajar. Namun, jika dikembangkan lebih lanjut, MIROR-APP dapat dimanfaatkan di bidang industri dan pertambangan. / Komang Ayu