BISNIS OLEH-OLEH KHAS SULSEL BEROMZET 20 JUTA PER-BULAN

27
Pemilik Toko Nila Oleh-Oleh Makassar, Arnita, saat menghadirkan aneka kue khas Makassar di F8.

BISNISSULAWESI.COM, MAKASSAR —  Oleh-oleh atau buah tangan seringkali dibawa saat pulang, setelah pergi berkunjung ke suatu tempat, baik saat berlibur ataupun menjalankan perjalanan dinas keluar kota. Keluarga, rekan, serta kolega, umumnya sangat menantikan itu. Sepertinya tidak lengkap jika melakukan kunjungan ke suatu tempat, tanpa membawa pulang oleh-oleh.

Produk oleh-oleh yang biasanya menjadi incaran adalah barang yang menjadi ciri khas dari tempat yang didatangi, baik berupa cinderamata atau kuliner. Ini yang menjadikan bisnis oleh-oleh, menjadi suatu peluang bisnis yang menjanjikan. Apalagi pemerintah daerah saat ini juga sedang menggencarkan program untuk menjadikan Makassar dan Sulsel sebagai daerah tujuan wisata.
Salah satu tempat yang menjajakan oleh-oleh khas Sulsel adalah Nita Oleh Oleh Makassar. Pekan lalu menjadi salah satu peserta dalam event akbar Makassar F8 2018 di Pantai Losari.

Beralamat di Sungguminasa Kabupaten Gowa, Nita Oleh Oleh Makassar menjajakan beraneka macam oleh-oleh kuliner, diantaranya Bagea, Dange, tori-tori, Dampok Pisang, Sikaporo, minuman Markisa dan lain-lain. Produk yang dijual fokus pada makanan, dan tidak menjual cinderamata.
Menurut owner Anita, bisnis penjualan oleh-oleh mulai dijalankan sejak 2005, dan merupakan kelanjutan tongkat estafet dari usaha yang telah dijalankan oleh orang tuanya sebelumnya.
“Kalau bahan pokoknya langsung saya order dari masing-masing daerah. Sementara untuk proses pembuatannya sendiri, di buat dirumah dibantu dengan 20 orang karyawan,” ungkapnya.

Membeli oleh-oleh di tempat Anita terbilang komplit. Hampir semua jenis oleh-oleh kuliner dari daerah-daerah di Sulsel tersedia, Makassar, Toraja, Mandar, Wajo, Palopo dan daerah lainnya di Sulsel. Harga yang ditawarkan pun cukup terjangkau, mulai dari Rp 10 ribu rupiah sampai Rp 30 ribu rupiah.
“Peminat sebagian besar wisatawan domestik, dari beberapa daerah di Indonesia. Kalau wisatawan mancanegara jarang, palingan hanya liat-liat,” ungkapnya.
Dengan modal awal Rp 5 juta, kini Arnita telah mampu meraup omzet hingga Rp 20 juta perbulan./Komang Ayu