Sulsel deflasi 0,86 persen September 2018

25
Naiknya kebutuhan listrik tidak dibarengi dengan naiknya harga kebutuhan bahan pokok dan menyebabkan deflasi.

BISNISSULAWESI.COM, MAKASSAR —  Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Selatan (Sulsel) mencatat angka deflasi di provinsi tersebut, pada September 2018 sekitar -0,86 persen dengan indeks harga konsumen (IHK) sebesar 134,00.
Kepala BPS Sulsel Yos Rusdiansyah mengatakan, penyebab deflasi di daerah ini karena menurunnya beberapa indeks harga. “Faktor pendorong terjadinya deflasi itu disebabkan adanya penurunan indeks harga pada dua kelompok, yang memiliki kontribusi cukup besar,” ujarnya.
Diungkapkan Yos, deflasi pada September berdasarkan dua kelompok pengeluaran, yang ditunjukkan oleh turunnya indeks harga konsumen pada kelompok. Dua kelompok pengeluaran lainnya yakni transportasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar -0,72 persen, serta kelompok bahan makanan sebesar -3,07 persen.

“Dua kelompok pengeluaran ini yang menjadi indikator deflasi pada bulan September lalu. Kelompok bahan makanan menyumbang angka paling besar -3,07 persen,” katanya.
Adapun lima kelompok pengeluaran lainnya mengalami kenaikan harga, yakni kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar sebesar 0,07 persen.
Pada kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau yang menyumbang angka 0,10 persen, sandang 0,16 persen, kesehatan 0,06 persen serta kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga menyumbang 0,03 persen.

“Untuk laju inflasi tahun kalender September 2018 Sulawesi Selatan sebesar 2,06 persen dan laju inflasi year on year terhadap September 2017 sebesar 3,09 persen,” ungkap Yos.
Menurutnya, penghitungan inflasi maupun deflasi Sulsel pada September 2018, didasarkan pada hasil survei harga konsumen yang dilakukan oleh BPS Provinsi Sulsel pada pasar tradisional dan pasar modern atau swalayan di lima kota IHK nasional; Bulukumba, Watampone, Makassar, Parepare dan Palopo./Komang Ayu