RENI, OWNER CAFE BEAN Terus Berinovasi untuk Hadapi Persaingan

45
Pemilik Cafe Bean, Reni Bean, saat memperlihatkan salah satu menu andalan di cafenya, Bubur Ayam.

BISNISSULAWESI.COM, MAKASSAR —  Makassar, dikenal sebagai salah satu surganya pencinta kuliner. Tak heran jika banyak investor, termasuk investor luar daerah berebut mencari peruntungan dengan membuka usaha warung makan. Reni salah satunya. Melihat potensi usaha bidang kuliner sangat menjanjikan, perempuan cantik asal Bandung ini membuka Café Bean, sebuah warung makan di bilangan Jalan AP. Pettarani. Kawasan yang terbilang strategis di kota Daeng.

Kepada Bisnis Sulawesi yang mewawancarainya pekan lalu, Reni mengaku membuka usaha di Makassar karena melihat potensi ekonomi di Makassar dan Sulawesi Selatan (Sulsel) pada umumnya sangat baik. Bahkan, ekonomi Sulsel menempati posisi kedua tertinggi secara nasional.
“Semakin ke sini, sambutan masyarakat Makassar sangat baik,” ujar Reni yang membuka usaha Café Bean pada 2010.

Memang, awal buka usaha dengan menu jualan bakso kurang membuahkan hasil. Menu kemudian diganti bubur ayam dengan tagline bubur ayam paling enak di Makassar. Untuk memudahkan orang mengingat, lambang yang dipakai photo Mr. Bean karena pada saat itu sedang digemari film Mr. Bean. Karena lambang dengan poto itu,lambat laun masyarakat menyebutnya bubur ayam Mr. Bean.
“Tetapi, ada beberapa masukan, karena nama “Mr. Bean” merupakan brand film yang sudah duluan ada, jadi harus minta izin untuk menggunakan nama tersebut. Akhirnya saya putuskan menggunakan nama “Bean” saja,” sebut Reni.

Tak hanya bubur ayam Bean, menu lain seperti gado-gado, batagor, juga dijual. Terakhir, karena di Bandung booming jualan rujak cireng dan seblak, dan kebetulan Reni asli Bandung, ia pun melengkapi menunya dengan menjual rujak cireng dan seblak ceker.
“Saya yang pertama menjual rujak cireng dan seblak ceker di Makassar. Bahkan sampai sekarang, selain bubur ayam Bean, cireng dan seblak menjadi andalan Cafe Bean,” katanya.

Reni menyadari, persaingan di dunia usaha terus meningkat dan semakin ketat. Untuk menghadapinya, Reni mengatakan kuncinya adalah terus berinovasi menghadirkan hal-hal baru dan tidak biasa (unik), yang tentunya tetap sesuai dengan selera pasar serta yang pasti mempertahankan kualitas. Termasuk bekerjasama dengan ojek online yang saat ini memang digemari konsumen, terutama mereka yang sedang malas keluar rumah. Terbukti, kemunculan ojek online, diakui Reni cukup berdampak pada peningkatan omset penjualannya.
“Dari total omset, pemesanan melalui ojek online menyumbang 30 persen,” katanya. Saat ini, Reni bisa meraup omset hingga 10 juta per bulan.
Reni membuka usaha dengan modal awal Rp 20 juta. Karena usaha warung makan yang dibuka cepat dikenal dan diminati masyarakat, Reni sudah bisa kembali modal setelah enam bulan dibuka. /Komang Ayu