TABUNG GAS 3 KG LANGKA DI MAKASSAR, BETULKAH?

40
PERTAMINA (PERSERO) REGIONAL VII SULAWESI SAAT MELAKUKAN SIDAK KE PANGKALAN DI JALAN TALASALAPANG, KECAMATAN RAPPOCINI, MAKASSAR.

BISNISSULAWESI.COM, MAKASSAR —  Menindaklanjuti laporan kelangkaan elpiji di Makassar, Pertamina Marketing Operational Region (MOR) Vll melakukan pengecekan stock tabung gas LPG 3 kg di salah satu pangkalan di Jalan Tallasalapang Kecamatan Rappocini, Senin (27/8/2018).

Pemilik pangkalan Sudirman mengaku, saat ini stok masih terpenuhi. Namun, akibat banyaknya permintaan warga, setiap hari gas LPG 3 kg terjual habis. “Perharinya sekitar 30-40 tabung habis terjual dengan harga Rp 15.500 per tabung. Harganya tidak ada kenaikan sama sekali,” ungkapnya.

Unit Manager Communication dan Corporate Social Responsibility (CSR) MOR Vll , M. Roby Hervindo, mengatakan, dari hasil pemeriksaan di wilayah Minasa Upa, sekitar 32-35 tabung perpangkalan dijual dengan Harga Eceran Tinggi (HET) Rp15.500 per tabung.
Dijelaskan lebih lanjut, pemerintah sudah menentukan banyaknya kebutuhan masyarakat miskin. Jika penggunaannya tepat, tidak salah sasaran, maka sebenarnya stok yang ada sudah lebih dari cukup untuk masyarakat miskin.
Misalnya saja di Makassar, rata-rata sekitar 1,4 juta tabung perbulan, dengan jumlah masyarakat miskin di Makassar ini mencapai 34,36 persen atau sekitar 504.955 jiwa. Seharusnya 1,4 juta tabung ini dapat mencukupi, dengan perhitungan perkeluarga bisa dapat 11 tabung perbulan.

Upaya yang dilakukan Pertamina untuk mencegah kurangnya stock tabung di pangkalan yakni pertama mereka meminta bahwa setiap pembeli dicatat dengan menggunakan Kartu Tanda Penduduk (KTP). Kedua alokasi untuk pengecer ditahan, artinya Pertamina tidak banyak memberikan ke pengecer namun diutamakan penjualan kepada masyarakat umum.
Marketing Operation Region (MOR) VII, Hiswana Migas dan Polres juga sudah mengadakan sidak ke beberapa usaha non UKM, Rabu (29/08/2018). Dari hasil sidak, ditemukan rumah makan dan laundry/binatu yang masih menggunakan elpiji subsidi 3 kg.

Adapun rumah makan yang juga disidak, saat ini sedang dalam proses mengganti elpiji 3 kg menjadi elpiji non subsidi. Di rumah makan tersebut, ditemukan penggunaan elpiji 3 kg sebanyak 18 tabung per hari, atau 540 tabung per bulan.
“Upaya untuk mendorong usaha non UKM menggunakan elpiji non subsidi, terus dilakukan Pertamina. Salah satunya melalui program Pake Bright Gas, Bisnis Ngegas. “Program ini memberi apresiasi pada usaha-usaha kuliner non UKM pengguna Bright Gas, dan membantu promosi usaha-usaha tersebut,” tutur Roby.
Menyikapi informasi kelangkaan gas 3 kg, pihaknya mengimbau kepada masyarakat, jangan mudah termakan isu. Cari lah LPG di pangkalan, jangan di pengecer, sebab harganya tinggi./Nur Rachmat