Siapkan Blueprint Pembangunan Maritim

DR Ir H Abdul Rivai Ras MM MS MSi

BISNISSULAWESI.COM, MAKASSAR – Blueprint visi maritim sudah sesuai dengan program pembangunan nasional Jokowi-JK, yang dikenal dengan nama Poros Maritim Dunia. Makanya perlu disiapkan blueprint pembangunan sektor maritim, yang akan akan membawa kesejahteraan bagi masyarakat luas dan memajukan daerah.

Sulsel sebagai provinsi yang 2/3 wilayahnya berbatasan dengan laut, memiliki garis pantai sepanjang 1.973,7 km, serta luas wilayah laut dan pesisir kurang lebih 60.000 kmĀ², diyakini memiliki kekayaan maritim yang besar.

Potensi ekonomi yang terkandung dalam laut dan sepanjang pesisir Sulsel, bila dikelola dengan benar akan mendatangkan devisa daerah paling sedikit Rp 11 triliun per-tahun. Uang sebesar itu bisa digunakan untuk menggenjot pembangunan infrastruktur, yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

309 pulau-pulau kecil yang tersebar dari Pangkep hingga Selayar dan sepanjang teluk Bone, adalah destinasi wisata bahari yang tak kalah dengan pulau-pulau di Bali, Lombok dan Papua. Sayangnya, pemerintah daerah sampai hari ini belum membangun infrastruktur konektivitas pendukung, seperti shortshipping untuk mempercepat konektivitas antar pulau di Sulsel.

Salah satu contoh adalah keindahan Atol Takabonerate di Selayar, yang tertutupi kabut.
Sulsel sebagai provinsi kaya raya terabaikan oleh kebijakan pemerintah. Tak perlu menggali aspek sumber daya alam, cukup membangun infrastruktur konektivitas maritim yang kuat saja, sudah lebih dari cukup untuk mengantar Sulsel menjadi provinsi yang menyaingi bandar pelabuhan internasional di Singapura.

Apalagi Pelabuhan Makassar merupakan bukti timeline sejarah, sebagai poros berdenyutnya kehidupan maritim sejak dahulu kala. Sebelum dan setelah jatuhnya Kerajaan Gowa di tahun 1669, Pelabuhan Makassar adalah titik temu lalu lintas strategis pengelana dan penjelajah bumi, simpul pelayaran dari Laut Banda ke tanah Jawa, ke barat.

Kapal-kapal ekspedisi seperti Wallacea, pelaut dari Eropa hingga armada Jung dari Tiongkok, dilaporkan menjadikan pantai Makassar di Sulawesi Selatan sebagai ruaya usaha, tempat transit sekaligus tempat loading logistik sebelum ke destinasi akhir di timur atau ke barat.

Untuk dapat menjadi poros utama pertumbuhan maritim di nusantara, Sulawesi Selatan harus membangun dan meningkatkan daya dukung sistem pelayaran, menghidupkan pelabuhan-pelabuhan perikanan yang mangkrak dari Selayar hingga Palopo, perbaikan tata kelola kepelabuhanan, dan memodernisasinya sesuai standar internasional, perbaikan pelayanan dan akses di seluruh pelabuhan yang ada.

Banyak yang mengira pembangunan maritim harus dilakukan di laut, padahal tidak demikian. Justru maritim berhubungan erat dengan aktivitas manusia di darat, seperti perhubungan laut, pariwisata bahari dan pantai, perikanan budidaya, dan industri pengolahan produk perikanan. / (*)

Penulis : Pendiri Universitas Pertahanan Indonesia/Praktisi kemaritiman