Maksimalkan Pemanfaatan Potensi Kemaritiman

seorang Wisatawan Asing, sedang mengabadikan gambar deretan perahu tradisional Bugis-Makassar di Pelabuhan Paotere Makassar.

BISNISSULAWESI.COM, MAKASSAR – Sebagai negara kepulauan yang 70 persen daerahnya merupakan laut, Indonesia dikenal sebagai negara maritim. Tak salah, jika kemudian sebagian besar aktivitas perekonomian bangsa ini, khususnya perdagangan yang dilakukan antarbenua, melalui transportasi laut. Itu artinya, perekonomian akan tumbuh positif apabila potensi yang luas ini dimanfaatkan secara maksimal.

Kepala Dinas Perikanan dan Pertanian (DP2) Kota Makassar, Abdul Rahman Bando kepada Bisnis Sulawesi, Kamis (24/08) memaparkan, laut mengandung jutaan triliun deposit kekayaan yang sudah di eksploitasi. Bukan sekadar aktivitas perdagangan, juga aktivitas transportasi manusia, transportasi barang, logistik, dan juga pertahanan dan keamanan. Di samping juga ada sumber energi kelautan dengan memanfaatkan sumber gelombang laut. Jika semua potensi tersebut dimanfaatkan dengan lebih baik, tentu hasilnya akan jauh lebih baik dari saat ini.

Dikatakan, saat ini warga masih mengelola sumber daya kelautan dengan cara yang belum tertata dengan baik. Hal itu dikarenakan beberapa faktor diantaranya keterbatasan sumber daya manusia (SDM), infrastruktur, dan sumberdaya pendukung lain untuk keperluan melaut.
Di Makassar sendiri, terdapat salah satu pelabuhan yang disebut-sebut tertua di dunia. Dengan itu, semua pihak diharapkan dapat membangun gelora dan memaksimalkan pemanfaatkan sumber daya maritim untuk menopang perekonomian, terutama perekonomian Kota Makassar.

“Kami di dinas akan bersinergi dengan semua pihak untuk bersama-sama membangun kota Makassar, terutama di bawah bimbingan bapak walikota”, tegas Rahman
Salah satu pemanfaatan sumber daya maritim yaitu melalui pengelolaan pulau-pulau dengan baik, yang dapat meningkatkan daya tarik kunjungan wisatawan lokal maupun domestik dan menjadi destinasi wisata yang menarik di Indonesia Timur.

Untuk medukung industri kemaritiman, sebut Rahman, dibutuhkan energi di sepanjang alur transportasi dan perdagangan laut, juga dibutuhkan tempat pengisisan bahan bakar di pulau-pulau. Untuk infrastruktur perdagangan skala lokal masih perlu ditingkatkan, seperti misalnya mobilisasi logistik antarpulau di wilayah timur.

“Pengisian bahan bakar saat ini masih berada di pelabuhan-pelabuhan besar, seperti pelabuhan di Makassar, sehingga menghambat aktivitas perdagangan dikarenakan terbatasnya tempat/stasiun pengisian bahan bakar kapal, baik bahan bakar minyak maupun gas,” sebut Rahman.

Khusus untuk Industri, stasiun pengadaan bahan bakar kapal baik gas maupun minyak, sabaiknya harus dipersiapkan di seluruh pulau. Paling tidak terdapat stasiun pengisian bahan bakar kapal dalam rentang pulau terdekat. Sehingga dapat meminimalisir indikasi kejahatan penyelundupan bahan bakar.

Selain dari pada stasiun bahan bakar kapal, masih dalam konteks perdagangan laut yaitu masih mahalnya suku cadang atau alat-alat transportasi laut. Maka dari itu juga diharapkan dari pemerintah untuk dibangun industri suku cadang kapal, agar dapat mengontrol persaingan harga.

Menurut data statistik dari grafik penangkapan, terlihat adanya peningkatan dari jumlah tangkapan ikan. Namun, jumlah nelayan yang menangkap ikan berkurang. Ada indikasi pergerakan pengusaha-pegusaha besar untuk menguasai sumber-sumber daya alam laut, sehingga tidak lagi terdistribusi ke masyarakat banyak.

Khusus di Kota Makassar, jumlah binaan nelayan mencapai 14.375 orang. Terjadinya penurunan jumlah nelayan, baik secara lokal Makassar maupun secara nasional, terindikasi akibat adanya beberapa faktor. Seperti menurunnya ketertarikan masyarakat untuk berprofesi sebagai nelayan. Selain faktor kalah saing, juga akibat mahalnya biaya melaut. Insfratruktur laut yang masih terbatas, tidak sebanding dengan kebutuhan hidup nelayan yang semakin meningkat.

Padahal menurut Rahman, keberadaan nelayan sangat penting dan berkontribusi cukup besar dalam menunjang perekonomian pangan masyarakat. “Peran nelayan sangat penting bagi asupan pangan masyarakat secara umum. Istilahnya, kalau tidak ada nelayan, siapa yang tangkapkan kita ikan untuk dimakan,” katanya.

Ironisnya lagi, kondisi kelautan berdasaran hasil penelitian para akademisi di Universitas Hasanuddin (rifcek), tingkat kerusakan laut saat ini mencapai 60 persen. Di beberapa titik tertentu. tak hanya terjadi kerusakan terumbu karang, kondisi padang lamun juga makin rusak, serta luas tutupan mangrove mengalami penipisan.

Untuk mengendalikan hal tersebut, pemerintah berkomitmen untuk lebih gencar memberikan bantuan-bantuan. Salah satunya dengan membentuk menko kemartiman, dalam rangka meningkatkan perhatian pada sektor tersebut. Di Makassar sendiri, gencar membangun program-program infrastruktur kelautan. / Komang Ayu