STOK GULA DI SULSEL MENIPIS

Darurat pandemi Covid-19 berimbas pada ketersedian bahan pokok. Salah satunya gula pasir yang terus menipis dan beberapa waktu terakhir mengalami kenaikan hingga Rp 18 ribu per kilogram. Masyudi Firmansyah

BISNIS SULAWESI, MAKASSAR – Darurat pandemi virus corona (Covid-19) ikut berimbas pada ketersedian bahan pokok. Salah satunya gula pasir yang terus menipis dan beberapa waktu terakhir mengalami kenaikan hingga Rp 18 ribu per kilogram dari Harga Eceran Tertinggi (HET) Rp 12.500 per kilogram.

Kepala Dinas Perdagangan Sulsel, Hadi Basalamah mengungkapkan, kelangkaan gula pasir tidak hanya terjadi di Sulsel tetapi seluruh Indonesia. Stok yang ada di Sulsel sendiri saat ini hanya 3.610 ton dan diyakini mampu bertahan 9-10 hari ke depan.

“Stok yang ada saat ini masih sisa produksi tahun 2019. Faktor lain yang bikin langka adalah musim giling yang mundur, yang seharusnya Maret 2020 mundur ke April 2020. Selain itu, kita masih tergantung dengan impor,” kata Hadi

Untuk memenuhi kebutuhan dan melakukan penetrasi pasar, saat ini Disdag sedang menunggu impor gula yang akan masuk ke Bulog Sulselbar sebanyak 25 ribu ton serta ke salah satu distributor gula sekitar 12 ribu ton. Tak hanya itu, 600 ton gula tak berstandar SNI yang ada di PT. Minasatene akan diolah kembali agar bisa dijual ke pasaran.

Dalam pertemuan dengan pihak DPRD Sulsel, distributor gula, ritel dan bulog beberapa waktu, Disdag meminta stok gula yang ada tak dijual keluar Sulsel.

“Kami meminta seluruh distirbutor tidak memperdagangkan ke daerah lain. Kami juga minta ritel melakukan pembatasan penjualan ke konsumen. Sementara konsumen diminta melakukan gerakan kurangi gula,” jelasnya.

Pihaknya berharap dengan adanya penambahan stok, harga gula di pasaran bisa ditekan. Selain itu, stok tersebut akan menjamin kebutuhan selama bulan Ramadan. Komang Ayu