Resesi Ekonomi Diharapkan Tak Berlanjut ke Depresiasi

BISNISSULAWESI.COM, DENPASAR – Makin cepat pandemi Covid 19 tertangani, makin cepat ekonomi recovery dari resesi. Itu berarti, tidak berlanjut ke depresiasi.

“Jika resesi berlangsung lama akan berbahaya. Bisa krisis politik dan ancaman konflik horizontal meningkat. Biaya pemulihan akan mahal sekali, apalagi kalau sampai chaos,” kata ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Bhima Yudhistira.

Kendati demikian, Bhima menjelaskan, ada perbedaan krisis saat ini dengan krisis tahun 1998. Krisis 1998 terjadi karena inflasi sampai 70 persen dan memicu kelangkaan barang dari mulai pangan sampai susu bayi, sementara tahun 2008 inflasinya 11 persen, relatif tinggi memukul daya beli masyarakat.

Sementara pada 2020, kata dia, kondisi agak berbeda karena yang terjadi adalah deflasi atau harga secara umum justru turun. “Deflasi disebabkan terganggunya sisi permintaan dan penawaran sekaligus akibat adanya pandemi,” jelasnya.

Bhima Yudhistira menjelaskan, Indonesia bisa resesi karena struktur ekonominya sangat rentan terhadap gejolak global. Dari dulu Indonesia bergantung pada komoditas seperti sawit, batubara dan komoditas primer lainnya. Ketika ada hantaman pandemi, membuat rantai pasok terganggu, maka permintaan komoditas dari Indonesia langsung drop. Terlebih lagi harga komoditas internasional juga turun tajam.

Terkait adanya stimulus pemerintah melalui PEN, ia menilai sejauh ini, belum mampu mencegah resesi ekonomi karena realisasinya kecil sekali masih 34 persen serta banyak bantuan yang mekanismenya mengandalkan bank, sehingga tidak menyentuh langsung sektor riil. “Dalam situasi resesi ini, harapan paling besar hanya berasal dari belanja pemerintah,” ujarnya.

Untuk itu, diperlukan banyak cara untuk mengantisipasi situasi resesi. Di antaranya, memperluas BLT atau transfer tunai tanpa syarat. Untuk itu, pemerintah perlu segera menambah BLT untuk pengangguran, korban PHK dan pekerja informal.

Selain itu, langkah pemerintah juga penting untuk menjamin pengendalian wabah, agar bisa berjalan optimal dan cepat. Solusinya adalah menangani masalah kesehatan dengan lebih serius. *dik

Artikel sudah dimuat di bisnisbali.com