Pertumbuhan Ekonomi Sulsel Melambat

POTO : MASYUDI FIRMANSYAH / BISNIS SULAWESI

 

 

BISNIS SULAWESI, MAKASSAR – Pertumbuhan ekonomi Sulawesi Selatan disebut akan melambat dampak pandemi Covid 19. Bank Indonesia (BI) memproyeksi pertumbuhan ekonomi Sulsel hanya tumbuh 6,1 hingga 6,5 persen, itupun jika Covid 19 bisa diatasi sampai akhir Mei atau bulan Juni.

Namun, jika penanganan Covid 19 berlangsung lebih lama, ekonomi Sulsel diperkirakan hanya tumbuh 2,5 hingga 3,5 persen.

Kepala Advisory dan Pengembangan Ekonomi Bank Indonesia Provinsi Sulsel, Endang Kurnia Saputra mengatakan Bank Indonesia terus mengoreksi kondisi pengembangan ekonomi.

“Awal tahun ini dampaknya cukup terasa. Salah satunya dengan anjloknya ekspor. Ditambah lagi, sebelumnya pada 2019 proyeksi BI meleset karena pertumbuhan hanya 6,92 persen,” katanya.

Sementara inflasi, kata dia hingga saat ini masih terkendali. Hanya saja, dikhawatirkan nilai tukar rupiah yang terus terdepresiasi dan impor yang sedikit berpotensi membuat harga naik.

Inflasi Sulsel tahun ini diprediksi mencapai 3,5 hingga 4,5 persen. Hanya saja ia tak begitu khawatir. Pihaknya lebih khawatir bagaimana mendorong pertumbuhannya.

“Nilai tukar rupiah yang terus melemah membuat harga-harga barang impor akan naik. Harganya dalam negeri pun juga akan naik. Tapi belakangan impor turun. Harga-harga kebutuhan juga cenderung turun dipasaran, bahkan sampai deflasi. Yang mengkhawatirkan adalah pertumbuhan ekonomi,” tuturnya.

Endang menuturkan, upaya prioritas yang saat ini mesti dilakukan adalah menjaga kesehatan masyarakat. “Masyarakat sehat, produktif, bisa kerja kembali, maka InsyaAllah pertumbuhan ekonomi bisa digerakkan kembali dan inflasi rendah,” ujarnya.

Sehingga jika itu bisa terjadi maka Sulsel akan tetap bisa bertumbuh. Apalagi kondisi inflasi terjaga, walaupun konsumsi turun drastis karena penerapan Work From Home (WFH) akibat Covid 19.

Sementara itu, pengamat ekonomi Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar, Anas Iswanto Anwar juga memandang sama. Kata dia, mustahil pertumbuhan ekonomo akan naik.

Apalagi anggaran, baik APBN maupun APBD banyak dialihkan untuk menangani Covid 19. “Jadi pasti terjadi perlambatan pertumbuhan,” bebernya.

Belum lagi perbankan yang melakukan penangguhan pembayaran kredit. Membuat jumlah kredit macet akan meningkat. Selain itu, kemampuan bank dalam menyalurkan kredit terganggu dan likuiditas turun.

“Bank mengadu ke pemerintah. Terpaksa harus cari lembaga keuangan internal untuk talangi. Negara juga defisit,” jelasnya.

Namun dengan segala potensi Sulsel yang ada, ia masih optimis jika Covid 19 cepat tertangani maka perekonomian Sulsel masih tetap tumbuh. Meski lebih rendah dari tahun lalu.