Pandemi, Ancam Kelangsungan Dana Investasi Real Estate

BISNISSULAWESI.COM, MAKASSAR – Produk investasi alternatif di pasar modal turut terdampak pandemi Covid 19. Salah satu, produk Dana Investasi Real Estate atau DIRE pun terancam dilikuidasi karena pendapatan aset dasarnya terganggu. Itu disampaikan Direktur Undiknas Graduates School, Prof. Ir Gede Sri Darma, St, MM, D.B.A., CFP, IPU, Kamis (16/07/2020)

DIRE kata dia, kumpulan uang pemodal yang oleh perusahaan MI akan diinvestasikan ke bentuk aset properti baik secara langsung seperti membeli gedung maupun tidak langsung dengan membeli saham/obligasi perusahaan properti.

DIRE diwajibkan menginvestasikan minimum 80 persen dari dana kelolaannya ke real estate di mana minimum 50 persennya harus berbentuk aset real estate langsung.

DIRE hanya bisa berinvestasi pada aset real estate karena itu kinerjanya sangat bergantung pada sektor properti.

“Oleh karena itu, beberapa risiko DIRE antara lain, penyewa properti gagal bayar, turunnya nilai properti, serta risiko likuiditas,” katanya.

Risiko likuiditas terjadi karena penjualan aset properti tidak selikuid menjual aset di pasar modal. DIRE yang dikenal juga sebagai Real Estate Investment Trust (REIT) adalah salah satu sarana investasi yang secara hukum di Indonesia berbentuk Kontrak Investasi Kolektif (KIK).

Sejumlah praktisi menyebutkan, properti memang merupakan aset yang lukuiditasnya sangat rendah. Tak hanya properti, banyak yang memprediksi bahwa akibat pandemi Covid 19, semua sektor akan sangat sulit diprediksi hingga dua tahun ke depan. Prof. Sri Darma pun mengiyakan hal tersebut.

Bagaimana jika bunga bank di nol kan dan cetak uang lagi untuk pemulihan ekonomi, terkait hal itu, Prof. Sri Darma menyatakan hal itu sebagai sebuah ide gila. Deposan kata dia, juga memerlukan bunga simpanan. Sementara mencetak uang berlebihan, tentu akan berdamoak tingginya inflasi. “Yang saya tahu, Bank Indonesia telah melakukan strategi REP,” katanya.