November, Nilai Transaksi Pasar Modal di Sulsel Mencapai Rp 3,134 Triliun

Ilustrasi, salah satu GI BEI

BISNISSULAWESI.COM, MAKASSAR – Nilai transaksi pasar modal di Sulawesi Selatan pada November 2020 mencapai  Rp 3,134 triliun. Lebih tinggi Rp 1,549 triliun atau sekitar 97,67% dibanding nilai transaksi bulan sebelumnya (Oktober 2020) yang sebesar Rp 1,586 triliun. Sementara jumlah Sub Rekening Efek (SRE) yang tercatat pada November 2020 sebanyak 32.053 atau bertambah 2.633 dari jumlah SRE yang tercatat pada Oktober 2020 sebanyak 29.420.

Single Investor Identification (SID) yang tercatat pada November 2020 sebanyak 26.705 SID. Bertambah sebanyak 2.049 SID baru dari jumlah SID yang tercatat pada Oktober 2020 sebanyak 24.656.

Kondisi ini menunjukan, animo masyarakat cukup besar untuk memanfaatkan potensi pertumbuhan instrumen investasi di pasar modal.

“Tentu, hal ini tidak terjadi begitu saja. Ini terjadi karena ada peningkatan literasi yang baik. Hal ini juga terlihat dari antusias masyarakat untuk aktif mencari informasi maupun memanfaatkan edukasi digital yang dilakukan oleh BEI maupun stakeholder pasar modal yang lain,” ungkap Kepala Bursa Efek Indonesia (BEI) Sulawesi Selatan, Fahmin Amirullah, Selasa (15/12).

Pemilik SRE dan SID di Oktober 2020, dominan di rentang usia 18 – 30 tahun, masing-masing sebanyak 14.523 dan 12.795, sedangkan rentang usia 31 – 40 tahun masing-masing 7.435 dan 6.111 serta usia di atas 41 tahun masing-masing sebanyak 7.339 dan 5.677.

Dilihat dari demografi rentang usia, kaum milenial terlihat makin melek dengan dunia pasar modal. Ini juga menjadi salah satu dari 10 rekor baru yang merupakan pencapaian tertinggi di sepanjang sejarah Pasar Modal Indonesia.

Pertumbuhan yang terjadi, tentu juga tak bisa lepas dari keberadaan Galeri Investasi (GI) BEI yang jumlahnya teerus bertumbuh di daerah, termasuk di Sulawesi Selatan. Keberadaan GI BEI,  tidak hanya memperkenalkan pasar modal dari sisi teori saja, akan tetapi juga praktiknya. Ke depannya melalui GI BEI yang menyediakan real time information untuk belajar menganalisa aktivitas perdagangan saham, diharapkan dapat menjadi jembatan menuju penguasaan ilmu pengetahuan beserta  praktik pasar modal.

Baca Juga :   RS Siloam Makassar Buka Klinik Estetika

Sebagai salah satu jalur mengenalkan pasar modal kepada masyarakat, maka peran GI BEI sangat signifikan terhadap perkembangan dan pertumbuhan jumlah investor ritel domestik. Oleh sebab itu, BEI sangat mengapresiasi seluruh pihak GI BEI yang telah berperan aktif memajukan industri Pasar Modal Indonesia.

Dalam upaya meningkatkan efektivitas dan efisiensi kerja KP BEI, GI BEI, maupun Anggota Bursa, maka BEI melakukan digitalisasi pelaporan dengan meluncurkan sistem pelaporan terintegrasi, Regional Development Information System (RDIS). RDIS yang diluncurkan, Senin 14 Desember 2020, bertujuan membantu mendokumentasikan, merekap, memverifikasi, serta membuat laporan aktivitas KP BEI dan GI BEI yang terintegrasi, sekaligus dapat memonitor kegiatan dan pertumbuhan GI BEI di setiap wilayah.

Secara nasional, saat ini sudah terdapat sebanyak 500 GI BEI, 13 GI BEI diantaranya ada di Sulawesi Selatan. Peresmian GI BEI ke-500 berlangsung kemarin yang merupakan GI BEI Akademi Keuangan dan Perbankan Effata Kupang, Nusa Tenggara Timur. Dengan keberadaan 500 GI BEI yang tersebar di seluruh Indonesia dari Aceh hingga Papua, BEI berharap akses informasi masyarakat, khususnya bagi generasi milenial, akan semakin mudah. Sesuai dengan fungsinya, GI BEI adalah sarana untuk memperkenalkan pasar modal sejak dini kepada kalangan akademisi dan milenial. ***