Mengagetkan, Ekonomi Sulsel Dibawah Proyeksi BI

ILUSTRASI. POTO : DOK. BISNIS SULAWESI

 

BISNISSULAWESI.COM, MAKASSAR –  Ekonomi Sulawesi Selatan (Sulsel) Triwulan I/2020 hanya hanya 3,07 persen, jauh melambat dibanding capaian triwulan I/2019 6,58 persen dan kontraksi -2,91 persen terhadap triwulan sebelumnya (q-to-q), cukup mengagetkan pihak Bank Indonesia. Pasalnya, ini berada di luar prediksi BI. Karena BI memprediksi penurunan tajam baru akan terjadi Triwulan II/2020.

“Saya juga kaget, karena proyeksi kami baru di triwulan II pertumbuhan ekonomi Sulsel turun cukup tajam,” ujar Kepala Advisory dan Pengembangan Ekonomi Bank Indonesia Perwakilan Sulsel, Endang Kurnia Saputra, Rabu (06/05/2020)

Menurut Endang kondisi ekonomi triwulan kedua bisa lebih rendah dibandingkan yang terjadi pada triwulan pertama. Banyak yang tak bisa bergerak, kecuali pertambangan. Banyak lapangan usaha menurun, terutama hotel, restoran dan tempat wisata.

‘’Hal ini bisa membuat pertumbuhan ekonomi lebih lambat lagi,’’ sebutnya

Sebelumnya, Bank Indonesia memproyeksi pertumbuhan ekonomi Sulsel hanya tumbuh 6,1 hingga 6,5 persen di tahun 2020. Itu jika Covid 19 bisa diatasi sampai akhir Mei atau Juni.

Namun, dalam skenario yang lebih berat, jika penanganan Covid 19 lebih lambat, ekonomi Sulsel diprediksi hanya dapat tumbuh 2,5 hingga 3,5 persen saja.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Sulsel, dari sisi produksi penurunan disebabkan oleh kontraksi yang terjadi pada beberapa lapangan usaha. Dari sisi pengeluaran penurunan disebabkan oleh hampir seluruh komponen mengalami kontraksi kecuali Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga (PK-RT).

Kontraksi pertumbuhan terjadi pada 13 kategori lapangan usaha. Utamanya pada kategori yang memiliki kontribusi besar seperti: Industri Pengolahan; Konstruksi; dan Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi Mobil dan Sepeda Motor.

Perekonomian Sulsel berdasarkan besaran Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku triwulan I/2020 mencapai Rp 123,77 triliun dan atas dasar harga konstan 2010 mencapai Rp 80,14 triliun.