Kurangnya Wisata Mancanegara di Sulsel, Akibat Tidak Adanya Jalur Udara ke Makassar

BISNISSULAWESI.COM, MAKASSAR – Sejak pandemi melanda hampir semua negara di dunia, pertumbuhan ekonomi semakin terpuruk. Dalam dunia pariwisata juga mengalami penurunan yang drastis. Salah satunya, di Sulawesi Selatan.

Seperti diprediksi sebelumnya dampak sistemik dan masif pandemi Covid 19 adalah kondisi Volatile (bergejolak), Uncertain (tidak pasti), Complex (kompleks), dan Ambigue (tidak jelas) merupakan gambaran situasi di dunia bisnis di masa kini, termasuk di industri pariwisata yang membuat arus perjalanan wisata domestik maupun global mengalami penurunan tajam diperkirakan 60-80% hingga bulan Juli 2020.

Salah satu aplikasi pesan hotel, Agoda memberikan data terkait neg

POTO : MASYUDI / BISNIS SULAWESI

ara apa saja yang sering dikunjungi wisman saat masa-masa pandemi ini. Agoda menegaskan bahwa negara Taiwan menjadi pilihan destinasi untuk liburan saat ini. Kedatangan 11.748 wisatawan ke Taiwan pada bulan Juli 2020 karena penanganan pandemi Covid 19 yang sangat baik.

Pemerhati Pariwisata Sulsel, Bambang Herriyanto mengatakan bahwa kita ketahui kebutuhan dasar wisatawan saat traveling yaitu tersedianya jaminan keamanan, keselamatan, kenyamanan.

“Sejak 6 bulan terakhir sulit untuk dipenuhi karena kurva pandemi Covid 19 belum beranjak turun, sehingga mengakibatkan terjadinya pembatasan perjalanan bahkan pelarangan perjalanan ke Indonesia bagi warganya oleh sejumlah 59 negara asing (travel ban), kondisi ini juga dirasakan oleh Sulawesi Selatan, jumlah wisatawan domestik maupun mancanegara turun signfikan mulai Maret sampai dengan Juli 2020, ujarnya kepada Bisnis Sulawesi, Sabtu (19/9/2020).

Bambang Herriyanto menambahkan bahwa pemerintah yang harus perlu dilakukan adalah penanggulangan kesehatan terlebih dahulu untuk me-restart ekonomi di tengah pandemi.

“Jika perekonomian bisa pulih, daya beli masyarakat akan menguat maka pasar wisatawan akan kembali bergairah,” bebernya.

Dari data United Nation World Tourism Organization (UNWTO) Barometer kedatangan wisatawan dunia di Indonesia pada tahun 2018 mencapai 1,34 juta, di tahun 2019 naik menjadi 1,51 juta. Namun, sampai bulan Juli 2020 turun sekitar 60-80 persen.

“Untuk akurasi data wisatawan saya mengambil dari UNWTO Barometer. Kalau Agoda, Traveloka data pencarian hotel akomodasi. Jadi belum tentu mereka yang cek atau pesan hotel adalah wisatawan, bisa juga pebisnis,” jelasnya.

Bambang menjelaskan, bahwa dalam menghitung jumlah wisatawan, pihaknya menggunakan terminologi kedatangan, bukan melalui individual.

“Karena bisa saja wisatawan yang datang, orang yang sama tetapi melakukan kedatangan berulang (repeating arrival) dalam 1 tahun,” tegasnya.

Bambang Herriyanto menekankan, salah satu faktor yang membuat kunjungan wisman ataupun domestik di Sulawesi Selatan berkurang karena tidak adanya aksebilitas yaitu transportasi udara ke Makassar. Gilang Ramadhan