Koperasi, Terancam Kesulitan Jaga Lukuiditas Cash Flow

Ketua KSPPS BHS, Andi Amri pada sebuah kegiatan yang dilaksanakan Forkom KBI bersama Kementerian Koperasi dan UKM. POTO : DOK PRIBADI

 

BISNIS SULAWESI, MAKASSAR – Ancaman krisis akibat Pandemi Covid 19 yang belum pasti kapan berakhir, juga menyerang sektor perkoperasian dan pembiayaan. Hampir semua koperasi di Sulawesi Selatan, bahkan di Indonesia terkena dampak. Koperasi, kini terancam mengalami kesulitan menjaga likuiditas cash flow.

“Sebagian besar Koperasi terdampak pandemi ini (Covid 19, red), terbanyak Koperasi Simpan Pinjam (KSP) juga Koperasi Simpan Pinjam dan Pembiayaan Syariah (KSPPS),’’ ujar Kepala Dinas Koperasi dan UKM Propinsi Sulawesi Selatan, Abdul Malik Faisal, Kamis (30/04/2020).

Maret dan April, merupakan bulan di mana koperasi wajib melaksanakan Rapat Anggota Tahunan (RAT) yang bertujuan menyampaikan laporan kinerja pungurus dan pengawas untuk kemudian mendapatkan tanggapan dan keputusan dari para anggota. RAT juga menjadi salah satu indikator eksistensi koperasi, apakah koperasi tersebut dalam kondisi sehat atau tidak.

‘’Namun, melihat kondisi saat ini sangat tidak memungkinkan menggelar RAT. Sudah ada surat edaran dari Kementerian Koperasi dan UKM agar RAT tidak dilakukan kecuali koperasi yg memiliki teknologi informasi untuk melakukan RAT secara On line dengan tetap mengacu undang-undang dan ketentuan yang berlaku,’’ ujarnya.

Ketua KSPPS Bakti Huria Syariah (BHS), Andi Amri mengakui pandemi Covid 19 memberi ancaman serius bagi dunia perkoperasian dan pembiayaan. Mengingat koperasi akan bisa bergerak jika anggotanya tetap bergerak. Pandemi dikhawatirkan memicu kepanikan anggota sehingga menarik dana simpanan secara bersamaan.

‘’Pandemi ini telah membuat sebagian anggota tidak punya penghasilan. Nah, ketika penghasilan baru tidak ada, otomatis masyarakat akan memanfaatkan dana yang tersimpan,’’ ujar Andi Amri.

Untuk nasabah yang memiliki kredit, ada kebijakan penundaan membayar kredit. Namun, hal itu dilihat secara kasus per kasus dan benar-benar terdampak. Diakui, dalam situasi seperti ini banyak yang memanfaatkan keadaan.

Baca Juga :   Pertamina Ajak Masyarakat Hadir Lindungi Anak-Anak Di Sulsel

‘’Koperasi juga harus menjaga likuiditas cashflow, karena koperasi lebih banyak permodalan dari anggota. Menjaga likuiditas cash flow itu yang mulai berat saat ini. Syukur sejauh ini belum ada kepanikan anggota, namun hal itu tetap harus diantisipasi ,’’ ujar Andi Amri.

Oleh karena itu, sejak awal ketika Covid 19 makin mewabah bahkan masuk ke Sulawesi Selatan, khususnya Makassar, KSPPS BHS  sudah mensosialisasikan dengan memberi pengertian kepada anggota agar tidak panik dan tetap menjaga semangat gotong rotong di tengah krisis.

Di tengah pandemi, antisipasi ancaman krisis yang tak terhindarkan adalah hal penting dilakukan. Terkait hal itu, KSPPS BHS intens berkoordinasi dengan anggota dan membangun optimisme bahwa ada berbagai kegiatan yang bisa dilakukan agar selama di rumah tetap produktif.

‘’Mencoba melihat peluang di tengah kesulitan, kami yakin setiap kesulitan pasti ada peluang,’’ tambahnya.

KSPPS BHS sendiri memiliki aplikasi “Anggotaku” yang bisa dimanfaatkan anggota untuk sarana menjual pulsa dan pembayaran PPOB lainnya. Pun soal kemudahan transaksi lain yang disediakan KSPPS BHS untuk anggota melalui kemitraan dengan perbankan (virtual account) dan pelayanan mini ATM. Ini menjadi pembuktian bahwa bisnis yang cepat masuk digital, akan tetap bisa eksis

Selain perbaikan model bisnis, KSPPS BHS terus berinovasi dan melakukan diferensiasi produk untuk meningkatkan pelayanan di tengah ancaman krisis. Diantaranya “Smart Mikro Plus”, “Gebyar Hadiah” dan “Gebar Investasi Syariah”.

‘’Kami juga meluncurkan paket SIAGA (Simpanan Anggota) hanya dengan Rp 100 ribu sudah bisa menjadi anggota,’’ ujarnya.

KSPPS BHS saat ini memiliki 5.000 anggota dengan 24 kantor cabang. Sebanyak 80 persen anggota, merupakan Aparat Sipil Negara (ASN).

Bali Putra

Baca Juga :   Pengangguran Terbuka di Sulsel 252.499 Orang, Tertinggi Lulusan Diploma