Jaga Stabilitas Harga Jelang Idul Fitri 1442 H

BISNISSULAWESI.COM, MAKASSAR – Inflasi Sulawesi Selatan April 2021 tercatat  0,33% (mtm) dan 1,97% (yoy) atau masih dalam sasaran target inflasi yang ditetapkan sebesar 3±1%. Kenaikan inflasi tertinggi tercatat di Kota Parepare, 0,92% (mtm) dan 2,49% (yoy) dan Kota Watampone 0,79% (mtm) dan 2,28% (yoy). Inflasi Sulawesi Selatan disebabkan kenaikan harga pada kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar lain 1,31% (mtm), kelompok makanan, minuman dan tembakau 0,27% (mtm) dan kelompok transportasi 0,25% (mtm).

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sulawesi Selatan, Budi Hanoto menyebutkan, kenaikan pada kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar lain utamanya berasal dari komoditas Bahan Bakar Minyak (BBM) Rumah Tangga seiring kenaikan harga elpiji akibat penyesuaian kebijakan harga eceran tertinggi elpiji 3 kg. Sementara kenaikan pada kelompok makanan, minuman dan tembakau didorong kenaikan harga komoditas cabai merah. Selanjutnya kenaikan kelompok transportasi dipengaruhi kenaikan tarif angkutan udara yang diperkirakan karena meningkatnya permintaan jelang HBKN.

“Adapun komoditas yang menjadi penahan inflasi adalah cabai rawit, telur ayam ras dan bawah merah. Hal tersebut sejalan dengan hasil pemantauan dari Pusat Informasi Harga Pangan Strategis  hingga minggu terakhir April 2021,” sebutnya.

Untuk mengantisipasi terjadinya potensi kenaikan tekanan inflasi, Bank Indonesia bersama dengan instansi yang tergabung dalam Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) melakukan serangkaian strategi pengendalian inflasi yaitu dengan menyelenggarakan pasar murah dan operasi pasar baik secara offline maupun virtual melalui kerjasama dengan platform ojek daring, bekerjasama dengan Ulama dan Mubaligh sebagai bentuk komunikasi belanja sesuai kebutuhan kepada konsumen jelang Idul Fitri 1442H dan mendorong upaya kerjasama antardaerah baik intra maupun antarprovinsi.

***

Baca Juga :   Destinasi Menakjubkan di Indonesia untuk Para Pendaki dan Penggemar Bersepeda