Dollar Menurun, Rupiah Diprediksikan Akan Menguat

BISNISSULAWESI.COM, MAKASSAR – Nilai tukar (kurs) Rupiah diprediksikan akan menguat setelah angka pengangguran di negeri Paman Sam semakin meningkat.

Pada Jumat, rupiah menguat 72 poin atau 0,49 persen menjadi Rp14.761 per dolar AS dari sebelumnya Rp14.833 per dolar AS.

Sebelumnya, pada Kamis (17/9/2020) lalu rupiah ditutup menguat 10 poin atau 0,07 persen menjadi Rp14.833 per dolar AS dari sebelumnya Rp14.843 per dolar AS.

Pengamat Ekonomi Unismuh, Abdul Muttalib Hamid mengatakan menguatnya rupiah karena ada faktor yang membuat ini mengalami depresiasi yang cukup dalam.

“Pertama, investor melakukan spekulasi terkait prediksi kenaikan Fed Fund Rate yang akan terjadi dalam rapat dewan kebijakan bank sentral Amerika Serikat (AS), The Federal Open Market Committee/FOMC,” ujarny kepada Bisnis Sulawesi, Jumat (18/9/2020).

Pandemi virus korona atau lebih dikenal Covid 19 membawa defisit AS menjadi yang terbesar sepanjang sejarah Amerika.

Menurutnya, proporsi tersebut mendorong tingkat pengangguran nasional mencapai 16 persen atau lebih tinggi bulan ini. Karantina wilayah di penjuru AS guna mengurangi penyebaran virus corona telah memukul ekonomi karena banyak bisnis tutup sekaligus meningkatkan angka pengangguran.

Sebelumnya diberitakan, bahwa pandemi ini membuat lonjakan semakin besar, anggaran belanja pemerintah bakal membuat defisit anggaran Amerika Serikat mencapai 3,7 triliun dollar AS.

“Meski demikian, dalam kondisi tersebut nyatanya mata uang dolar AS justru masih tetap perkasa. Hal tersebut terlihat dari indeks dolar AS (DXY) sepanjang tahun ini hingga mencatat penguatan lebih dari 3%,” bebernya.

Diketshui, pada sisi lain nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat bergerak menguat pada akhir pekan ini. Sejak pagi hingga siang hari ini, rupiah bergerak di kisaran 14.729 per dolar AS hingga 14.767 per dolar AS. Jika dihitung dari awal tahun, rupiah melemah 6,23 persen, dimana  Persoalan pengangguran di Amerika Serikat (AS), diprediksi akan menyebabkan mata uang dolar AS terus bergerak melemah.

“Dolar disebut akan semakin terpuruk ketika Partai Demokrat dan Partai Republik di Parlemen AS menyepakati kucuran stimulus untuk 30 juta pengangguran di AS Kendati demikian, pada perdagangan pada kamis kemarin, rupiah diperkirakan menguat, pada perdagangan besok, sentimen yang akan memengaruhi rupiah adalah rilis data payroll dan tingkat pengangguran di AS,” jelasnya.

“Jika hasilnya ternyata bagus dan melebihi ekspektasi pasar, tentu ini bisa menjadi katalis positif bagi rupiah. Selain itu, kelanjutan mengenai kebijakan bantuan tunai di Indonesia untuk mendorong daya beli masyarakat juga akan dinantikan pasar dan berpengaruh terhadap pergerakan rupiah,” pungkasnya. Gilang Ramadhan