Berlanjut, Perbaikan Kinerja Ekspor Sejumlah Komoditas

Perbaikan kinerja ekspor pada beberapa komoditas diperkirakan terus berlanjut. Menyusul pemulihan perekonomian global yang diperkirakan semakin membaik. POTO : MASYUDI FIRMANSYAH

BISNISSULAWESI.COM, MAKASSAR – Bank Indonesia (BI) melihat potensi perbaikan kinerja ekspor pada beberapa komoditas akan terus berlanjut. Menyusul pemulihan perekonomian global yang diperkirakan semakin membaik, sebagai dampak implementasi vaksinasi Covid 19 di banyak negara untuk membangun herd immunity dan mendorong mobilitas serta berlanjutnya stimulus kebijakan fiskal dan moneter.

Beberapa komoditas ekspor yang mengalami perbaikan kinerja diantaranya CPO, batu bara dan besi baja, serta sejumlah produk manufaktur seperti kimia organik, kendaraan bermotor dan alas kaki, yang kemudian akan mendorong kinerja sektoral.

Perbaikan kinerja ekspor tercatat di sejumlah wilayah Sulampua (Sulawesi, Maluku, Papua), Jawa dan Sumatera.

Pemulihan ekonomi global yang lebih tinggi di negara maju ditopang terutama oleh Amerika Serikat (AS), sedangkan di negara berkembang didorong perbaikan ekonomi Tiongkok dan India. Kinerja positif sejumlah indikator pada Januari 2021 mengonfirmasi berlanjutnya pemulihan ekonomi global tersebut.

Purchasing Manager’s Index (PMI) manufaktur dan jasa di AS, Tiongkok dan India melanjutkan fase ekspansi. Selain itu, penjualan ritel di Tiongkok dan keyakinan konsumen di India juga terus meningkat. Dengan perkembangan tersebut, pertumbuhan ekonomi global pada 2021 diperkirakan mencapai 5,1%, lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya sebesar 5,0%.

Sejalan dengan perbaikan ekonomi global tersebut, volume perdagangan dan harga komoditas dunia terus meningkat sehingga mendukung perbaikan kinerja ekspor negara emerging, termasuk Indonesia.

Sementara itu, ketidakpastian di pasar keuangan global diperkirakan menurun, seiring dengan ekspektasi perbaikan perekonomian dunia. Kondisi likuiditas global juga tetap besar dan suku bunga tetap rendah sejalan dengan stimulus kebijakan moneter yang masih berlanjut. Perkembangan tersebut mendorong berlanjutnya aliran modal ke negara berkembang dan menopang penguatan mata uang berbagai negara, termasuk Indonesia.

Baca Juga :   Sambut Perayaan Nyepi, Banjar Hindu Kota Makassar Gelar Donor Darah dan Peduli Lingkungan

Implementasi vaksinasi dan sinergi kebijakan nasional diperkirakan akan mendorong momentum pemulihan ekonomi nasional ke depan. Pada triwulan IV 2020, ekonomi Indonesia terkontraksi sebesar 2,19% (yoy), terutama karena masih lemahnya konsumsi swasta dan investasi bangunan sebagai dampak masih terbatasnya mobilitas akibat pandemi Covid 19.

Meskipun lebih rendah dari perkiraan, ekonomi pada triwulan IV-2020 membaik dengan kontraksi yang lebih rendah dari triwulan sebelumnya sebesar 3,49% (yoy). Secara keseluruhan tahun 2020 ekonomi terkontraksi 2,07%. Ke depan, perbaikan ekonomi domestik diperkirakan akan berlanjut sejalan dengan pemulihan ekonomi global dan akselerasi program vaksin nasional oleh Pemerintah.

Untuk keseluruhan tahun 2021, Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kisaran 4,3%-5,3%, lebih rendah dari perkiraan sebelumnya pada kisaran 4,8%-5,8% sejalan dengan realisasi pertumbuhan ekonomi pada triwulan IV-2020.

Sementara itu, untuk mendorong masih lemahnya permintaan domestik, sinergi kebijakan ekonomi nasional terus diperkuat. Sinergi kebijakan mencakup lima aspek, pembukaan sektor-sektor produktif dan aman, akselerasi stimulus fiskal, penyaluran kredit perbankan dari sisi permintaan dan penawaran, berlanjutnya stimulus moneter dan makroprudensial, serta percepatan digitalisasi ekonomi dan keuangan, khususnya terkait pengembangan UMKM.

***