Aliran Modal Asing Melemah, Muttalib Sebut Makassar Tidak Akan Terpengaruh

BISNISSULAWESI.COM, MAKASSAR – Aliran modal asing yang keluar dari pasar keuangan domestik mencapai Rp153,29 triliun sejak awal tahun hingga Kamis 10 September 2020.

Seperti dikutip dari katadata.co.id, berdasarkan data transaksi 7-10 September 2020, aliran modal asing keluar dari pasar domestik mencapai Rp500 miliar. Total tersebut diperoleh dari posisi jual neto di pasar saham sebesar Rp2,37 triliun dan beli neto di pasar SBN sebesar Rp1,87 triliun.

Pakar Ekonomi Unismuh Abdul Muttalib Hamid mengatakan aliran modal asing yang keluar alias capital outflow dari pasar keuangan Indonesia dari awal tahun hingga Kamis (10/9/2020) year to date (ytd) total mencapai Rp 153,29 triliun.

“Berdasarkan data transaksi 7 hingga 10 September 2020, nonresiden di pasar keuangan domestik jual neto Rp 0,5 triliun Bank Indonesia akan terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah dan otoritas terkait untuk memonitor secara cermat dengan melakukan langkah-langkah koordinasi kebijakan lanjutan yang perlu ditempuh untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan, serta menopang pertumbuhan ekonomi Indonesia agar tetap baik dan berdaya tahan,” ujar Muttalib sapaan karibnya kepada Bisnis Sulawesi, Senin (14/9/2020).

Capital outflow tersebut, lanjutnya juga berpengaruh terhadap premi CDS (credit default swaps) Indonesia 5 tahun naik ke 91,36 bps per 10 September 2020 dari 86,71 bps per 4 September 2020.

“Sementara itu, kapitalisasi pasar di Bursa Efek Indonesia atau BEI tergerus selama sepekan terakhir seiring dengan pelemahan indeks harga saham gabungan (IHSG),” jelasnya.

Muttalib menjelaskan bahwa yang membuat pendorong capital outflow adalah beberapa kasus yang terjadi, salah satunya adalah, Covid 19. Menurutnya, sentimen ini terjadi karena lebih bersifat global, yakni terhentinya uji klinis vaksin korona.

Sementara di Sulawesi Selatan, wabah Covid 19 memang memberi dampak di semua lini kehidupan, termasuk sektor ekonomi. Apalagi, banyaknya investor yang menunda untuk melakukan investasi di Indonesia, khususnya di Sulawesi Selatan.

“Investasi untuk periode April sampai Juni (triwulan II) sebesar Rp3,7 triliun. Diantaranya Penanaman Modal Asing (PMA) Rp582 miliar dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) Rp3,165 triliun,” bebernya.

Ini terjadi, akibat investor dilarang masuk dan sangat jelas berpengaruh. Lantaran, adanya investor yang ingin investasi tapi kondisi keamanan dan kondisi Covid 19 yang belum aman, menjadi salah satu patokan utama investor ogah masuk di Sulawesi Selatan.

“Investasi di Sulsel sudah secara otomatis terkontraksi, dampak korona tidak hanya merambah investasi asing tapi juga investasi nasional lainnya,” tuturnya.

Muttalib menuturkan bahwa jika Makassar akan memberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), rupiah tidak akan melemah. Namun, yang berpengaruh adalah indeks ekonomi.

“Pemberlakuan PSBB di Makassar tidak berpengaruh terhadap tekanan mata uang asing, khususnya USD Amaerika terhadap Rupiah, karena perubahan kurs mata uang asing terhadap rupiah itu dihitung oleh Bank Central, berarti berlaku secara nasional. Yang berpengaruh itu adalah indeks ekonomi atas perdagangan dan investasi di Sulawesi Selatan khususnya di Kota Makassar,” pungkasnya. Gilang Ramadhan