Manajer Bank Diduga Keracunan, Setelah Makan di Resto Abe

BISNIS SULAWESI, MAKASSAR – Kejadian tak mengenakkan menimpa Sutrayanti, seorang manajer di salah satu bank swasta. Usai makan siang di Abe, sebuah resto dalam mal kawasan Tanjung Bunga, Makassar, Senin (3/2/2020), dia harus dilarikan ke RS Siloam karena diduga keracunan.

Kejadiannya sore, kira-kira pukul 15.30. Sutra yang datang ke resto tersebut bersama sang suami, memesan pallumara, nasi, air mineral. Menu yang bagi Sutra dan keluarga sudah familiar buat mereka order di tempat yang sama.

Sesi makan siang pun berlangsung normal. Hingga pasangan tersebut berpisah untuk melanjutkan pekerjaan masing-masing. Sutra kembali ke kantornya di sebelah mal, suaminya menuju Pangkep.

Namun keanehan mulai terasa dalam interval setengah jam kemudian. Sutra merasa tidak nyaman. Suhu badan panas dingin. Wajah, leher, hingga daerah mata memanas dan kemerahan.

“Tak berapa lama saya merasakan mual, sakit kepala sampai batang leher, pusing, rahang gigi atas agak keram. Saya merasa lemas karena tungkai lutut dan tangan saya tidak punya tenaga untuk jalan,” ujarnya, Selasa (4/2/2020).

Sutra menghubungi suaminya. Namun tak disangka, sang suami pun merasakan hal yang sama. Akhirnya, mereka sama-sama dibawa ke Siloam. Melewati UGD kemudian diantar ke kamar perawatan untuk tindakan infus, suntik, dan pemberian obat.

Begitu kondisinya memungkinkan untuk menggunakan ponsel kembali, Sutra memberi kabar kepada manajemen Abe.

“Tujuannya untuk menghindari adanya korban lain di resto itu dengan dampak yang berbahaya,” imbuh Sutra.

Namun hanya kekecewaan yang dia dapat. Salah seorang perwakilan resto malah mengirim pesan bahwa pihaknya sudah melakukan insfeksi di dapur. Ikan maupun bumbu diklaim aman. Mereka malah menanyakan apakah benar Sutra dan suami memesan menu itu.

Sutra melontarkan bahwa dia dan keluarga tidak menuntut apa-apa. Apalagi ganti rugi. Sebab pengobatan mereka ditanggung asuransi.

“Kami hanya kecewa karena tidak ada itikad baik dari manajemen resto. Minimal mengakui kesalahan dan meminta maaf. Bukan malah meragukan kami makan pallumara betulan atau tidak,” pungkasnya.

Nur Rachmat