HASIL LIMBAH KAYU DAPAT BERNILAI JUAL TINGGI

14

BISNISSULAWESI.COM, MAKASSAR — Trend pasar saat ini semakin mengarah pada produk yang ramah lingkungan. Hal tersebut terbukti dengan semakin populernya istilah go green. Konsumsi masyarakat semakin mengarah kepada produk-produk yang alami dan bertema lingkungan hidup.

Seperti Hasbulla owner dari Anuna Makassar Woodcraft, mengaku mulai bergelut dalam bidang pengolahan limbah kayu pada 2016. Untuk bahan baku pihaknya lebih memilih limbah kayu pinus asal luar negeri, ketimbang kayu lokal.

“Untuk kayu lokal, saya tidak bisa meyakini apakah itu hasil dari penerbangan liar atau bukan. Selain itu pinus luar negeri seratnya lebih cantik,” ungkapnya.
Uya memulai usaha dengan hanya bermodal Rp 500 ribu saja. Ia mengaku saat ini sudah mampu menghasilkan omset sebesar Rp 10 juta setiap bulannya. Angka tersebut di dapatkan dari hasil kerjasama dengan beberapa kafe di Makassar, khususnya untuk produk lukis bakar.
“Saya berusaha seramah mungkin dengan lingkungan. Cat dan clear yang dipakai semuanya berasal dari bahan dasar air. Untuk lukis bakar, proses pembuatannya memakan waktu 1 hari. Tapi saya jarak waktu 3 sampai 4 hari, agar lebih santai pengerjaannya. Paling banyak order untuk wedding, ultah dan wisuda,” tambah pria yang akrab disapa Uya.

Untuk karya lukis bakar ukuran 30 sentimeter, dibanderol dengan harga mulai Rp150 ribu hingga Rp 250 ribu. Sedangkan untuk jam dinding harganya Rp 150 ribu, dan gantungan kunci seharga Rp 10 ribu sampai Rp 25 ribu.
Menurut Uya, karya yang dihasilkan tergantung stok kayu yang tersedia. Diakuinya, produk yang susah proses pembuatannya adalah membuat lukisan di bidang yang besar, karena kayunya harus disambung terlebih dahulu. Selanjutnya membuat pola lukisan secara manual kemudian dibakar.

Sebelum memulai usaha, Uya mengaku tidak memiliki keahlian sama sekali dalam hal pengolahan limbah kayu. Ia hanya belajar dengan menonton di Youtube Channel. Sewaktu kuliah dijalani dengan cara putus nyambung putus nyambung. Awalnya kuliah di UNM, baru setahun sudah memutuskan berhenti. Kemudian melanjutkan pendidikan di STIKES Panakkukang, kembali berhenti. Pendidikannya dituntaskan di Jakarta.

Saat ini setiap hari Uya berjualan di galeri miliknya, Jalan Tun Abdul Razak 1. “Sekarang saya sedang mencari lembaga yang fokus pada lingkungan hidup, untuk mendonasikan sebagian keuntungan yang telah didapat. Bentuk kepedulian terhadap lingkungan bisa dilakukan dengan hal yang kecil sekalipun,” tutupnya./Komang Ayu