Outlook Ekonomi Sulsel 2018 Kerja Keras Tembus Level 8%

24
Gubernur Sulsel, Syahrul Yasil Limpo, saat melakukan Roadshow di jalur rel kereta api di Kabupaten Barru, Sulsel, beberapa waktu lalu. Syahrul menumpang gerbong kereta api bersama sejumlah pimpinan Forkopimda menempuh 16 kilometer rel yang selesai dan dapat dilewati oleh kereta api ini.

BISNISSULAWESI.COM, MAKASSAR — Sulawesi Selatan diprediksi butuh kerja keras untuk bisa mendongkrak perekonomiannya pada tahun 2018 bisa tembus ke level 8% seperti yang pernah dicatat pada tahun 2012. Faktornya karena 2018 dikenal sebagai “tahun politik” lokal yang membuat investor bersikap “wait and see”.

Hal tersebut dikemukakan oleh pengamat ekonomi dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar, Marzuki DEA, dalam sebuah diskusi di Makassar, belum lama ini. “Butuh kerja keras,kalau tidak dibilang pesimistis daerah ini bisa mengulang pertumbuhan ekeonomi pada 2012 yang tembus pada level delapan persen,” kata doktor alumni Perancis ini.

Ia mengemukakan sejumlah indikator yang menguatkan prediksinya. “Diantaranya seperti kita tahu pada tahun depan akan ada 13 perhelatan politik di daerah ini. Biasanya investor bersikap menunggu “arah angin” sebelum memutuskan melakukan investasi di daerah ini,” jelasnya.

Hal senada juga diungkapkan oleh pejabat Bank Indonesia (BI) perwakilan Sulsel. Perekonomian Sulawesi Selatan pada tahun depan diproyeksikan masih sulit untuk kembali berada pada level 8%.

Deputi Kepala Bank Indonesia Perwakilan Sulsel, Dwityapoetra Soeyasa Besar mengatakan sejumlah indikator perekonomian daerah tersebut tidak banyak bergerak untuk kemudian me­ngatrol perekonomian secara kumulatif.

Menurut dia, kondisi tersebut merupakan keberlanjutan dari pertumbuhan ekonomi pada tahun ini yang relatif masih tertahan karena masih dalam dalam tahapan pemulihan.
Sesuai dengan proyeksi bank sentral, laju perekonomian Sulsel pada tahun ini pada rentang 6,7%-7,1% atau lebih rendah jika dibandingkan dengan kinerja tahun lalu.
“Ekonomi Sulsel tahun ini masih belum mampu mencapai level agresif 8%, dan bakal berlanjut di tahun depan. Bahkan pada 2017 ini, pertumbuhan ekonomi Sulsel ada kecenderungan mengarah ke batas bawah,” paparnya seperti dikutip bisnis.com.
Kendati demikian, lanjut dia, perekonomian Sulsel masih me­mungkinkan melaju dengan ke­cenderungan menjauh dari batas bawah pada rentang 6,7%-7,1%.

Menurutnya, kondisi tersebut bisa terealisasi apabila beberapa sektor mendapatkan injeksi percepatan, diantaranya jika seluruh pembangkit sudah beroperasi dan terkoneksi dengan sistem kelistrikan Sulawesi Selatan.

Selanjutnya pada tahun depan, potensi mendekati level 8% memiliki peluang dengan catatan beberapa infratruktur strategis bisa beroperasi seperti kereta api, Trans Sulawesi, pembangkit listrik serta beberapa lainnya.

“Adapun untuk tahun ini, masih sulit jika dikatakan terakselerasi. Ada perbaikan ekspor impor saja pengaruh nya mungkin hanya 0,09%. Tetapi yang penting, pertumbuhannya positif,” papar Dwityapoetra.

Merujuk pada data bank sentral, perekonomian Sulsel terakhir mencapai level 8% pada 2012 lalu. Pada tahun tersebut, pertumbuhan ekonomi sulsel mencapai 8,37% namun terus mengalami penurunan pada tahun berikutnya dan bertahan di level sekitar 7% hingga saat ini.
Sebagai gambaran, pada 2013 lalu ekonomi Sulsel hanya tumbuh 7,65%, kemudian pada 2014 pada level 7,57%, turun lagi menjadi 7,15% pada 2015 serta 7,41% di 2016 lalu.
Sementara itu, Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo mengatakan ekonomi Sulsel pada tahun ini relatif di bawah ekspektasi, namun pada tahun depan bisa lebih terakselerasi. “Tahun depan, momentum pertumbuhan lebih kencang bakal tercipta. Mulai dari energi dan infrastrukutur jadi penopang. Serta tentunya stabilitas aspek lainnya, kita berharap semua tetap terjaga tahun depan,” ujarnya.

Kemudian pada sektor agribisnis, lanjut Syahrul, terobosan untuk optimalisasi komoditas unggulan juga menjadi kunci pertumbuhan.”Saya yakin, semuanya bisa berjalan lebih baik tahun depan,” katanya./Mohamad Rusman